Tuesday , October 16 2018
Home / Berita / Others / Kampoeng BNI Sukses Munculkan Para Pengusaha Baru di Imogiri

Kampoeng BNI Sukses Munculkan Para Pengusaha Baru di Imogiri

Kemampuan Indonesia dalam mempertahankan stabilitas ekonomi di tengah fluktuasi dan ketidakpastian global telah mengundang pujian dari negara-negara lain. Namun di tengah catatan positif tersebut, perekonomian nasional juga masih menyisakan sejumlah celah evaluasi. Misalnya saja dari segi akses masyarakat terhadap produk keuangan yang sejauh ini dinilai masih sangat minim dan terbatas. Berbekal pemikiran tersebut, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sebagai salah satu bank terkemuka milik pemerintah mencoba memformulasikan strategi pembangunan masyarakat berupa pemberian bantuan kredit beserta pendampingan dalam rangka mendukung peningkatan ekonomi daerah. Seperti halnya yang coba dilakukan dalam bentuk Program Kampoeng BNI di Dusun Mojolegi, Desa Karang Tengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Jika menengok masa lalu di kisaran tahun 1990-an, daerah Karang Tengah tercatat masih menjadi salah satu kantung utama penyumbang catatan kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun pada perjalanannya, program pemberdayaan Kampoeng BNI mampu mengubah wajah daerah dengan mengaktifkan kembali kegiatan ekonomi produktif yang memicu munculnya para pengusaha baru dari kawasan tersebut. “BNI mulai hadir di sini (Karang Tengah) pada tahun 2009, dengan menggandeng koperasi yang kami bentuk, yaitu Koperasi Catur Makaryo. (Program) Awalnya berupa program penghijauan di tanah seluas 15 hektar milik Sultan (Hamengkubuwono X, Raja Keraton Yogyakarta, Gubernur DI Yogyakarta). Dari sana kami mulai menanam banyak bibit, seperti jambu mete, mahoni, alpukat, sirsak dan lainnya,” ujar Soegijanto, Ketua Kelompok Tani Catur Makaryo, yang membawahi Koperasi Catur Makaryo. Dalam aktifitas awal tersebut, BNI berkontribusi banyak dalam hal penyediaan bibit siap tanam dan juga bantuan pinjaman lunak bagi petani untuk mengolah dan mengembangkan produk hasil pertaniannya. Jambu mete dipanen dan diambil kacang metenya untuk dikeringkan dan dijual. Buah jambunya diolah kembali menjadi sirup jambu mete siap minum bersama dengan buah sirsak. Tanaman garut dan juga potongan pisang diolah menjadi keripik yang renyah nan lezat. Dedaunannya diolah menjadi pewarna alami untuk batik khas Karang Tengah. “Selain itu, lahan di bawah tanaman keras kami manfaatkan untuk tanaman pertanian untuk konsumsi sehari-hari. Kacang hijaunya kami olah untuk bahan bakpia. Sisa hasil pertanian yang tidak terpakai kami olah menjadi pupuk. Yang jelas semangatnya sebisa mungkin semuanya kita olah. Tidak bolah ada yang terbuang sia-sia,” tutur Soegijanto.

Dan di luar berbagai komoditas tersebut, para petani seolah mendapat ‘berkah’ dengan hidupnya ulat-ulat sutra liar di pepohonan yang ditanam. Kepompong-kepompong ulat sutra itu pun tak luput dari sentuhan olahan dan pada akhirnya turut menambah penghasilan para petani. “Dulu awalnya kami tidak tahu kalau (kempompong) itu adalah ulat sutra. Biasanya kami bakar saja karena kami anggap hama. Namun setelah itu Gusti Pembayun (putra tertua Sultan Hamengkubuwono X) memberitahu kalau itu ulat sutra dan bernilai tinggi. Kami diajari pengolahannya dan alhamdulillah sampai sekarang cukup membantu (perekonomian),” ungkap Soegiyanto. Kini, dengan dibantu kalangan akademisi dan juga mahasiswa dari berbagai universitas ternama, Soegiyanto dan teman-temannya di Koperasi Catur Makaryo tengah berusaha agar ulat sutera yang hidup di pohon-pohon jambu mete, sirsak, mahoni dan semacamnya itu bisa dibudidayakan, sehingga tidak lagi liar dan industri pengolahannya bisa lebih terencana. Di tengah segala upaya pengembangan tersebut, BNI tak juga lelah menyokong dengan total pinjaman lunak yang telah digulirkan di wilayah Kampoeng BNI Imogiri mencapai Rp3,85 miliar. “Alhamdulillah kini semua (kondisi) sudah membaik di desa kami. Ibaratnya, sudah tidak ada lagi yang hidup kekurangan. Semua punya bisnis, punya usaha. Mulai dari pengolah jambu (mete), sirsak, pisang, bakpia, sutra dan sebagainya. Lalu (industri) turunannya juga banyak. Ada anggota yang (pinjaman lunaknya) digunakan untuk persewaan (mobil) pick-up, untuk mengangkut dagangan ke luar Imogiri. Ada yang bisnis sound system untuk hajatan, karena (warga) di sini sudah relatif mampu, sehingga kalau bikin hajatan ya kadang lumayan meriah. Intinya (bisnisnya) macem-macem,” tambah Sugiyatno, Ketua Koperasi Catur Makaryo. Dengan terus membaiknya kondisi perekonomian, lanjut Sugiyatno, dampak lanjutan yang muncul juga mulai meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Jika pada generasi sebelumnya rata-rata hanya tamat Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), maka kini telah banyak pemuda asal Karang Tengah yang menempuh pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU) atau bahkan melanjutkan studinya di tingkat sarjana. “Yang jelas manfaatnya (Kampoeng BNI untuk masyarakat) banyak. Kami benar-benar terbantu. Kalau mungkin ada kurang atau evaluasi di lapangan, itu tentu lumrah dan wajar. Ke depan bersama-sama akan dibenahi. Tapi tujuan utamanya untuk pengembangan masyarakat, benar-benar telah kami rasakan,” tegas Sugiyatno.

Check Also

OJK Beri Perlakuan Khusus untuk Nasabah dan Industri Jasa Keuangan Terdampak Bencana Sulteng

Bali – Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan kebijakan pemberian perlakuan khusus terhadap kredit …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *