Sunday , May 27 2018
Home / Berita / Holding BUMN Pertambangan Dinilai Tidak Efektif

Holding BUMN Pertambangan Dinilai Tidak Efektif

JAKARTA – Rencana pembentukkan induk usaha (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertambangan dinilai tidak akan efektif. Hal itu disampaikan oleh Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada, A. Tony Prasetiantono, di Jakarta, Senin (20/11/2017).

Pasalnya dalam Holding BUMN pertambangan ini, nantinya beberapa emiten seperti PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) harus rela berada di bawah kekuasaan PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau lebih dikenal dengan Inalum. Dan kabarnya tiga emiten ini bakal mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa secara serentak pada Senin (29/11), yang salah satu agendanya yakni bakal menghapus status perseroan mereka (ANTM, TINS, dan PTBA).

Menurut Tony, tidak efektifya rencana Holding BUMN pertambangan itu jika ditujukan dalam rangka menigkatkan efisiensi sekaligus kinerja BUMN di sektor pertambangan. Sebab kata Tony, rencana pembentukkan holding BUMN pertambangan malah akan memunculkan maalah baru khususnya di sisi manajemen.

“Sebetulnya untuk meningkatkan efesiensi manajemen BUMN tambang itu lebih tepat di merger, bukan holding. Ini karena holding (sebetulnya) hanya transisi,” tutur Tony kepada wartawan.

Meski begitu Tony bilang, di dalam pelaksanaan merger dibutuhkan situasi yang kondusif untuk menunjang keberhasilan dari tujuan yang dicapai. Oleh karenanya, dia pun meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN untuk mengkaji ulang terkait implementasi holding BUMN pertambangan.

“Dengan merger maka jumlah direksi dan komisaris serta karyawan bisa dikurangi cuma kalau merger pasti ada gejolak, karena akan ada pengurangan direksi dan karyawan. Cuma merger itu butuh situasi yang kondusif dan saya lihat waktunya kurang tepat saat ini,” imbuhnya.

Tony menjelaskan, desakan untuk mengkaji ulang rencana pembentukkan holding BUMN pertambangan didasarkan karena terdapat ketidakefektivan dari implementasi holding sebelumnya di sektor perkebunan dan semen. Hal ini diketahui dari tidak tercapainya tujuan utama pembentukkan holding di sektor semen dan perkebunan.

“Saya tidak sreg dengan holding, dan kalau pun jadi holding hanya transisi 3 tahun untuk merger. Coba lihat, holding semen juga ngak efektif karena mereka (anak usaha SMGR) masih bawa entitas masing masing dan membawa budaya organisasi masing-masing. Jadi holding itu sekarang hanya forum rapat saja,” pungkas Tony. (AHM)

Check Also

Emiten MYOR Bidik Laba Rp1,71 Triliun

Tangerang – PT Mayora Indah Tbk (MYOR) membidik laba bersih sebesar Rp 1,71 triliun di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *