Saturday , May 26 2018
Home / Sosok / Bank Bisa Jadi Tak Dibutuhkan Lagi

Bank Bisa Jadi Tak Dibutuhkan Lagi

Industri jasa keuangan Tanah Air dewasa ini diramaikan dengan banyak bermunculannya perusahaan-perusahaan penyedia layanan jasa keuangan berbasis teknologi atau yang biasa disebut financial technology (fintech). Kehadirannya dengan menawarkan beragam kemudahan untuk berbagai transaksi keuangan mulai dari pembayaran tagihan, transfer, virtual assistance hingga pembelian polis asuransi sampai fasilitas kredit via online membuatnya digemari oleh masyarakat. Berbagai kebutuhan layanan jasa keuangan yang biasanya cukup merepotkan dengan syarat-syarat berlapis kini bisa diselesaikan hanya melalui sarana smartphone. Tak pelak kondisi ini membuat sejumlah pihak mulai membanding-bandingkan layanan yang ditawarkan perusahaan fintech dengan yang selama ini dimiliki oleh perbankan. Semakin eksisnya industri fintech banyak diyakini bakal menjadi tekanan dan bahkan bukan tidak mungkin suatu saat mematikan industri perbankan, seperti halnya tersingkirnya peran radio panggil atau penyeranta (pager) oleh handphone atau mesin ketik yang tergantikan oleh komputer. Terkait hal ini, redaksi Lantaibursa.id berkesempatan berbincang dengan Head of Digital Banking DBS Indonesia, Leonardo Koesmanto, saat memperkenalkan layanan Electronic Know Youe Customer (e-KYC) PT Bank DBS Indonesia yang bakal ditempatkan di kedai-kedai kopi di kota-kota besar di Indonesia. Berikut ini adalah ringkasan dari perbincangan tersebut.

 

Bagaimana DBS Indonesia memaknai maraknya kehadiran perusahaan fintech di pasar jasa keuangan Indonesia?

 

Sangat bagus. Sangat welcome. Kami welcome dengan hadirnya teman-teman dari perusahaan fintech karena membawa penyegaran, refreshment bagi industri jasa keuangan di Indonesia secara keseluruhan.

 

Terkait potensi ancamannya terhadap industri perbankan?

 

Nggak lah. Kami nggak pernah menganggap sesuatu itu buruk, mengancam. Kami selalu coba ambil sisi positifnya. Dan fintech itu bagus kok. Selalu ada ide segar yang bisa kita ambil dari sana. Perbankan yang selama ini memiliki pengalaman terkait prudentialitasnya harus bisa evolving dari sana. Kalau mereka (fintech) kan biasanya berangkat dari sisi teknologinya. Maka kami lebih punya value dari segi keamanannya, agar layanan yang diberikan ini tidak merugikan siapa pun pihak-pihak di dalamnya. Agar sesuai dengan aturan dan standar-standar keamanan industri keuangan. Jadi arahnya ke sinergi, dan kami sudah banyak melakukan itu, yaitu kerjasama dengan banyak fintech yang ada di Indonesia.

 

Namun kan harus diakui berbagai layanan yang ditawarkan oleh perusahaan fintech banyak bersinggungan dengan layanan-layanan yang selama ini menjadi ceruk pasar perbankan. Apakah tidak khawatir bahwa ini akan bersifat disruptif dan pada akhirnya nanti bisa mematikan industri perbankan karena secara fungsi benar-benar telah tergantikan oleh perusahaan fintech?

 

Terkait hal ini Saya teringat dengan salah satu kutipan dari Bill Gates yang Saya suka. Dia bilang gini,”Sampai kapan pun banking akan selalu dibutuhkan, tapi banknya nggak.” Artinya apa? Artinya adalah bahwa bagaimana pun kondisinya, layanan perbankan itu sudah pasti akan diperlukan oleh masyarakat. Nggak mungkin masyarakat bisa hidup tanpa perbankan. Banknya sendiri, dalam arti fisik ya, seperti kantornya, mesin-mesin ATMnya, misalnya, bisa jadi tidak lagi dibutuhkan. Tapi perbankannya masih akan tetap dibutuhkan. Sama dengan orang sudah tidak lagi menggunakan telegram atau pager. Kebutuhan berkomunikasinya sih masih ada, selalu ada, tapi alatnya kita sudah tidak pakai itu lagi. Surat tidak laku lagi karena ada email. Apakah kebutuhan orang untuk berkabar itu hilang? Nggak. Kebutuhannya masih tetap ada, hanya alatnya, teknologi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu sudah berbeda.

 

Jadi bank-bank yang ada saat ini bisa jadi sudah tidak dibutuhkan lagi oleh masyarakat?

 

Secara fisik bisa jadi, bahkan sangat mungkin itu terjadi di masa mendatang. Karena itu kami selama ini tidak pernah ribut dengan bentuk, dengan teknologinya. Kami tidak pernah fokus ke sana. Fokus kami ke kebutuhan itu tadi. Apa yang kira-kira menjadi kebutuhan masyarakat? Apa sih yang saat ini dibutuhkan oleh nasabah? Itu lah concern kami. Karena kalau kita hanya terjebak ke bentuk teknologinya, dengan pasar yang digarap sama, maka tentu akhirnya nanti akan mengarah pada klaim siapa memfollow siapa. Siapa yang menciptakan pertama kali, dan siapa yang tinggal mencontek saja. Dan perdebatan itu kan sebenarnya di masyarakat kurang penting juga. Yang penting kan masyarakat bisa dilayani semaksimal mungkin. Dan itu hanya bisa kita pahami ketika kita benar-benar tahu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.

 

Dan menurut DBS apa yang saat ini menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat?

 

Kalau konteksnya layanan jasa keuangan ya yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah sebuah layanan yang usefull namun secara step-stepnya simpel, mudah dan nggak ribet. Misal orang dulu ketika mau membuka rekening harus benar-benar datang ke bank. Harus antre dulu. Berkas-berkas yang harus diisi untuk kelengkapan administrasi juga berlembar-lembar. Benar-benar menyita waktu dan nggak efisien. Ini yang mendasari kami meluncurkan produk Digibank, yaitu sebuah layanan mobile banking di mana pembukaan rekeningnya nggak pake ribet. Cukup unduh aplikasi dan kemudian ikuti petunjuk-petunjuk di situ. Data-data yang diisi pun nggak banyak karena di step terakhir Kami verifikasinya dengan memanfaatkan NPWP dan e-KTP. Jadi data-data pribadi yang lebih lengkap tinggal Kami ambil dari e-KTP itu. Kebutuhan agar pihak bank dan calon nasabah harus bertatap muka juga Kami penuhi tidak dengan menyuruh calon nasabah yang datang ke Kami. Kami yang langsung datang ke mereka. Jadi dari aplikasi tadi ketika akan verifikasi calon nasabah tinggal pencet, kami akan datangi. Seperti layanan ojek online gitu. Nanti juga kartu debit akan dikirim ke alamat yang diinginkan. Jadi sama sekali tidak perlu datang ke bank. Itu tadi yang Saya bilang bisa jadi bank dalam arti fisik nantinya tidak dibutuhkan lagi. Tapi layanan perbankannya kan masih dibutuhkan. Itu yang menjadi ranah kerja kami.

 

Dengan menyederhanakan proses pembukaan rekening menjadi sesimpel itu, bagaimana soal regulasinya? Apakah hal itu tidak berpotensi melanggar aturan-aturan yang selama ini sudah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI)?

 

Nggak lah. Menurut Anda apakah ada potensi untuk regulator itu punya niatan menghambat kinerja dan pengembangan industri? Nggak mungkin kan. Kepentingan mereka justru bagaimana caranya agar industri di bawah naungan dia bisa berkembang lebih maksimal. Itu kata kuncinya. Jadi ketika ada banyak regulasi, itu pasti arahnya untuk perkembangan industri itu sendiri. Bagaimana pun regulasi ada itu ada kepentingannya. Misal untuk menjaga sisi prudentialitasnya, untuk menjaga kepentingan nasabah agar tidak dirugikan, dan semacamnya. Jadi kita concern saja ke kepentingan dari regulasi itu apa. Makanya ketika regulasinya mengharuskan calon nasabah dan pihak bank harus bertemu, ya Kami patuh karena kami tahu betul itu manfaatnya apa, yaitu untuk pihak bank bisa memastikan personality dari calon nasabah itu. Karena itu lalu kami kembangkan yang namanya e-KYC. Jadi lebih win-win solution, dan regulator juga paham maksud kami. Mereka juga welcome dan mengapresiasi atas apa yang kami bangun ini. (JAT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *