Wednesday , August 22 2018
Home / Sosok / Kekuatan Konsistensi dan Kedisiplinan

Kekuatan Konsistensi dan Kedisiplinan

JAKARTA-Tampangnya paling terlihat awam sore itu. Di tengah para legenda musik rock macam Ahmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah dan Abadi Soesman, terselip sesosok pria berkulit putih dengan perawakan yang cukup tinggi. Rambutnya cepak. Kacamata bertengger di atas hidung, yang semakin membuatnya terlihat cukup ‘kalem’ di antara para seniornya tersebut.

Namanya Fajar Satritama. Dia bisa dibilang adalah ‘bocah bontot’ dalam keanggotaan band rock legendaris Godbless. Posisinya sebagai drummer menggantikan Yaya Moektio yang undur diri sejak tahun 2012. Dan siapa sangka Fajar di luar aktifitas cadasnya di dunia music rock rupanya juga sukses meniti karier di industri perbankan nasional. Posisinya juga tak bisa dipandang sebelah mata, yaitu Head of Corporate Banking PT Bank ICBC Indonesia. “Tapi baru saja udah nggak (di ICBC) lagi. Diajak bos pindah ke PT Bank Ganesha Tbk. Tapi masih di bidang yang sama, di corporate banking juga,” ujar Fajar, saat disapa tim redaksi Lantaibursa.id di sela persiapannya sebagai bintang tamu Stock Sound edisi Januari 2018, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (31/1). Berikut hasil obrolan santai tim Lantaibursa.id dengan pria kelahiran Jakarta, 11 Juli 1970 ini terkait banyak hal, mulai dari music rock, grup band hingga dunia kerja ‘kantoran’ yang dijalaninya selama ini.

 

Kapan mulai bergabung dengan Godbless?

Mulai tahun 2012, tepatnya saat penampilan kami di event Java Jazz 2012. Memang masih additional players, sambil yang utama di Edane. Saya diajak untuk mengisi posisi drummer Godbless yang saat itu kosong. Baru setelah beberapa kali maen bareng, mungkin mereka (personel Godbless lain) cocok ya dengan style drum Saya. Cukup senang juga, dan akhirnya jalan terus sampai sekarang.

 

Boleh diceritakan secara singkat perjalanan Bang Fajar sebagai drummer di industri musik Indonesia?

Awalnya tahun 1990 mulai ngedrum di Cynomadeus bareng Iwan Madjid, Todung Pandjaitan, Eet Sjahranie dan Arry Safriadi. Lalu setelah itu bareng Eet bikin Edane tahun 1991. Setelah itu ya banyak maen sebagai session player di proyek-proyek bantuin temen. Terus ya itu tadi, sejak tahun 2012 berproses juga di Godbless.

 

Dan sampai sekarang di Edane juga masih aktif?

Masih sampai sekarang.

 

Apa yang membedakan ngedrum di Edane dan Godbless? Apa tantangannya tetap eksis di dua grup band sekaligus?

Ya secara aliran kan emang beda ya. Di Edane lebih ngebeat, sedang di Godbless kan dia lebih ada dinamikanya. Nggak kenceng terus seperti di Edane. Ya nggak ada masalah karena kan memang secara aliran memang beda.

 

Dan rupanya Bang Fajar ini juga ternyata seorang bankir. Boleh diceritakan bagaimana menjalankan dua aktifitas yang mungkin oleh sebagian orang cukup bertolak-belakang. Dunia musik, apalagi rock yang dikenal slengekan, dijalani berbarengan dengan menjadi bankir yang notabene profesi yang sangat ‘kantoran’?

Ya asal bisa bagi waktu saja. Bermain band ini kan lebih banyak di weekend. Kalau pun harus maen di weekdays kan masih bisa dicarikan solusinya, misal ijin atasan atau ambil cuti. Kan nggak sering-sering juga. Ya pinter-pinter kita mengatur jadwal saja.

 

Tapi seorang rocker harus kerja ‘kantoran’, bagaimana rasanya?

Sebenarnya nggak gimana-gimana juga ya, karena dunia kerja hari ini, termasuk juga perbankan, sudah mulai tidak mengenal kantor yang pure phisicly. Kerja bisa dari mana saja, apalagi sekarang kan sudah mulai jamannya financial technology (fintech).

 

Apa nilai-nilai dasar music rock yang bisa Bang Fajar terapkan di dunia kerja, dalam hal ini sektor perbankan?

Hard worker. Seperti lagu Semut Hitam-nya Godbless, itu kan bercerita tentang semangat kerja keras. Dan rock itu kan identik dengan karakter keras gitu, dalam arti dia konsisten. Ini juga sangat bisa mendukung di dunia kerja. Ditambah lagi dengan ketekunan dan kedisiplinan. Kalau boleh cerita, senior-senior kita ini (personel Godbless yang lain), mereka sangat disiplin. Dalam hal apa pun. Saat latihan saja mereka sangat disiplin dan commit. Justru Saya yang muda kadang malah sering telat, jadi malu. Ini mungkin juga jadi resep mereka sehingga bisa eksis sampai sekarang, bahkan jadi band legenda.

 

Terakhir, boleh sharing atau kasih petuah bagi para rocker atau pemain musik muda untuk ke depannya?

Apa ya?. Hehehe… Ya seperti yang Saya bilang tadi saja. Dalam segala hal, konsistensi dan kedisiplinan itu sangat penting. Apa pun profesi Kita, berkarier di industri apa saja, mau musik, mau kantoran, dua hal itu tadi sangat penting. Ketika segala sesuatu kita kerjakan dengan tekun, dengan konsisten dan penuh kedisiplinan, percaya lah pasti hasilnya memuaskan. Tinggal bagaimana kita menjalaninya saja. Harus fokus. (JAT)

Check Also

Bank Bisa Jadi Tak Dibutuhkan Lagi

Industri jasa keuangan Tanah Air dewasa ini diramaikan dengan banyak bermunculannya perusahaan-perusahaan penyedia layanan jasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *