Tuesday , August 21 2018
Home / Berita / PGAS Resmi Jadi Anak Usaha Pertamina

PGAS Resmi Jadi Anak Usaha Pertamina

Jakarta – Menteri BUMN Rini M Soemarno telah menandatangani akta pengalihan saham seri B milik Negara sebesar 56,96% di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) kepada PT Pertamina (Persero). Dengan demikian, Holding BUMN Migas resmi berdiri dengan Pertamina sebagai induk perusahaan (holding) dan PGAS sebagai anggota holding.

Pembentukan holding BUMN Migas ini sesuai arahan Presiden pada Oktober 2016 yang dituangkan dalam Roadmap Pengembangan BUMN yang telah dikordinasikan dengan berbagai pihak terkait.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media F. Harry Sampurno mengatakan, langkah selanjutnya adalah proses integrasi PT Pertagas yang merupakan anak usaha Pertamina ke PGN. Sehingga PGN akan menjadi Sub-Holding Gas di bawah Pertamina.

Tim gabungan dari Pertamina dan PGN terus menuntaskan rencana integrasi dimaksud dengan sasaran tercapainya konsolidasi keuangan yang sehat dan tax planning yang optimal. “Dengan masuknya PT Pertagas ke PGN maka PGN akan menjadi pengelola midstream sampai distribusi dan niaga gas” kata Harry dalam siaran persn di Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Sebelumnya, Menteri BUMN juga telah menyetujui Perubahan Anggaran Dasar Pertamina terkait perubahan atau peningkatan modal dan menyetujui pula integrasi PT Pertagas ke dalam PGN.

Adapun, beberapa pertimbangan yang disampaikan Direksi Pertamina dalam mengintegrasikan Pertagas ke dalam PGN antara lain; lini bisnis yang sama dalam hal transportasi dan niaga gas, terdapat potensi penghematan biaya operasional dan Capex karena hilangnya tumpang tindih dalam pengembangan infrastruktur, dapat menciptakan infrastruktur gas yang terintegrasi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, penggabungan PGN dalam Pertamina diyakini dapat menciptakan kinerja keuangan konsolidasi yang sehat, memperkuat struktur permodalan PGN sehingga membuka ruang untuk meningkatkan kapasitas hutang untuk pengembangan bisnis gas; dan meningkatkan setoran dividen serta pajak kepada negara.

Ia juga menegaskan, perubahan nama PGN dengan menghilangkan kata “Persero” semata-mata merupakan aspek administratif. “PGN akan tetap diperlakukan sama dengan BUMN lainnya untuk hal-hal yang sifatnya strategis,” katanya.

Menurutnya, negara tetap memiliki kontrol terhadap PGN, baik secara langsung melalui kepemilikan saham Seri A Dwiwarna, maupun secara tidak langsung melalui Pertamina selaku induk usaha. Hal itu ditegaskan dalam dalam PP 72 Tahun 2016.

“Hal strategis, seperti perubahan Anggaran Dasar, dan pengusulan pengurus perusahaan, masih harus dengan persetujuan saham dwiwarna, apalagi jika melakukan perubahan struktur modal atau right issue tentu harus dengan persetujuan DPR sebagaimana diatur dalam PP 72/2016,” paparnya.

Penandatanganan akta pengalihan saham mestinya telah terlaksana tidak lebih dari 60 hari setelah tercapainya keputusan dalam RUPS Luar Biasa pada 25 Januari 2018 lalu. Untuk selanjutnya, hal tersebut akan dikukuhkan kembali pada RUPS Tahunan PGAS pada 26 April 2018 mendatang.

Ia menambahkan, terlewatinya batas waktu 60 hari dimaksud bukan berarti holding BUMN Migas batal. “Sebab, terbentuknya holding BUMN Migas secara hukum terjadi saat dilakukannya penandatanganan Akta Pengalihan Saham dimana seluruh hak-hak Negara RI selaku pemegang 56,96 persen saham Seri B di PGN secara hukum telah beralih kepada Pertamina,” pungkasnya.

Check Also

Bank DKI Tambah Prestasi Berkat Kinerja Keuangan Positif 

JAKARTA – Catatkan kinerja keuangan positif pada triwulan II 2018, Bank DKI raih 3 penghargaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *