Tuesday , October 16 2018
Home / Berita / Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat, 2 Bank Ini Hentikan PUB Obligasi
spotlightgrowth dot com

Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat, 2 Bank Ini Hentikan PUB Obligasi

Jakarta – PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) mengumumkan bahwa perseroan tidak akan melanjutkan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III untuk penerbitan obligasi senilai total Rp4 triliun. Hingga saat ini, dari total rencana tersebut, surat utang sebanyak Rp2,5 triliun telah dilempar ke pasar.

Sesuai pernyataan pendaftaran yang didapat perseroan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per tanggal 27 Juni 2016, aksi PUB tersebut berlaku dalam waktu 2 tahun, artinya periode penerbitan obligasi BTPN akan berakhir pada 27 Juni 2018.

“Kami informasikan bahwa perseroan melakukan penghentian Obligasi Berkelanjutan III Bank BTPN dengan tingkat bunga tetap,” kata Anika Faisal, Direktur BTPN dalam keterbukaan informasinya, Kamis (24/5/2018).

Anika menjelaskan, latar belakang penghentian penawaran obligasi tersisa sebesar Rp1,5 triliun adalah adanya perlambatan ekonomi global dan juga tingginya tingkat yield obligasi saat ini.

Selain BTPN, penghentian penawaran PUB juga ditegaskan oleh Bank DKI. Periode penawaran obligasi berkelanjutan Bank DKI akan berakhir pada 23 Juni 2018. “Bank DKI tidak bermaksud untuk menerbitkan sisa Rp1,5 triliun mengingat tingkat likuiditas perusahaan perusahaan saat ini masih mencukupi,” ujar Sigit Prastowo, Direktur Keuangan Bank DKI.

Tanpa memerinci latar belakang dari penghentian PUB tersebut, Sigit menambahkan, pengumuman informasi ini dalam rangka memenuhi peraturan OJK.

Sementara itu, dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan lalu, diyakini bahwa pertumbuhan ekonomi global 2018 akan semakin baik. Hanya saja, di saat yang bersamaan tengah berlangsung proses penyesuaian likuiditas global.

Pertumbuhan ekonomi global 2018 diperkirakan mencapai 3,9%, lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,8%, terutama didorong oleh akselerasi ekonomi AS yang bersumber dari penguatan investasi dan konsumsi, di tengah berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter AS.

Dari Eropa, pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan tumbuh lebih tinggi didukung perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif. Dari negara berkembang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan tetap cukup tinggi ditopang kenaikan konsumsi dan investasi swasta serta proses penyesuaian ekonomi yang berjalan dengan baik.

Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia yang berdampak pada tetap kuatnya harga komoditas, termasuk komoditas minyak, pada 2018.

Di tengah tren penguatan ekonomi dunia, likuiditas dolar AS cenderung mengetat, yang kemudian mendorong kenaikan imbal hasil surat utang AS dan penguatan dolar AS sehingga menekan banyak mata uang lainnya.

Ke depan, sejumlah risiko perekonomian global tetap perlu diwaspadai, antara lain, kenaikan FFR dan imbal hasil surat utang AS, kenaikan harga minyak, ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok, serta isu geopolitik terkait pembatalan kesepakatan nuklir antara AS dan Iran.

 

 

Check Also

JLL: Permintaan Ruang Perkantoran di Kuartal III 2018 Tetap Positif

Jakarta – JLL, lembaga penyedia jasa manajemen real estate dan investasi menyatakan bahwa pasar perkantoran …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *