Saturday , June 23 2018
Home / Sosok / Chef Karen Carlotta: Inspirasi Lokal, Selera Global.

Chef Karen Carlotta: Inspirasi Lokal, Selera Global.

Siapa sangka Es Teler bisa jadi inspirasi kue cantik? Kreasi trendi ini tercipta dari hasil “imajinasi rasa” Chef Karen Carlotta, seorang Chef seksi yang sering dijuluki “Queen of Cake”. Selain kue Es Teler, dia juga telah “menggubah” kue Pisang Ijo dan kue Martabak.

Dengan menggunakan teknik pastry tingkat tinggi, Karen berhasil menerjemahkan cita rasa kudapan lokal ke dalam selera kue internasional.

Kue-kue cantik ini bisa didapatkan di AMKC Atelier, sebuah restoran dengan menu kreatif di Plaza Indonesia. AMKC merupakan singkatan dari nama Karen dan suami, Adhika Maxi yang juga seorang Chef. Dibuka sejak 2016 lalu, restoran ini membawa selera baru di bisnis kuliner Jakarta, yang mengolah cita rasa Indonesia menggunakan teknik cooking dan baking ala Eropa.

Bersama suami, Karen yang akrab disapa “KC” ini adalah brainchild di balik suksesnya UNION, sebuah restoran dan bakery yang kini telah memiliki 4 branch di Jakarta, tersebar di Plaza Senayan, Pondok Indah, Grand Indonesia, dan yang terbaru di Pantai Indah Kapuk. Di pertengahan 2018 ini, KC mengatakan bahwa UNION akan terus dibesarkan.

“Sebagai brand, UNION sudah sangat kuat. Saya bersama suami dan partner bisnis kami akan terus membesarkan brand ini, membuatnya menjadi go-public,” ujar Chef yang kerap tampil di sejumlah acara televisi ini. Melalui UNION, karya pertamanya yang paling dikenal adalah kue Red Velvet, yang cepat melesat menjadi tren dan mempopulerkan nama UNION.

Di balik pencapaiannya sekarang, KC sempat melewati masa “salah arah”. Selulus kuliah di Fakultas Ekonomi sebuah universitas swasta di Jakarta, dia pernah bekerja di sebuah bank dan benar-benar tidak bisa menghayati apa yang dia kerjakan di sana. Suatu hari, dia mengalami tekanan pikiran yang cukup berat, yang membuatnya keluar dari bank tersebut. Dari sana, orangtuanya mulai memberi kepercayaan pada apa yang dia benar-benar suka: membuat kue.

Bermula dari Singapura
Setelah tidak bekerja di bank, di tahun 2005 KC memilih kuliah di Singapore Hotel and Tourism Education Center (SHATEC). Dia mengambil diploma Pastry & Baking yang menjadi kecintaannya sejak kecil.

Di sini KC tidak merasakan kuliahnya sebagai sebuah proses belajar yang susah, jauh berbeda dibanding masa kuliah sebelumnya di jurusan Ekonomi. “Semua terasa seperti mudah sekali buat saya, karena memang passion saya di sana,” ujar KC yang berhasil lulus dengan predikat Cum Laude.

Semasa kuliah, dia sempat magang di Swissotel The Stamford, bekerja dari pagi buta hingga larut malam, menangani pastry dan bakery di 17 outlet hotel besar itu.

Selepas kuliah, dia mulai bekerja sebagai Pastry Chef di Laurent Bernard Chocolatier, sebuah toko kecil yang kondang di Singapura. Setelah setahun di sana, KC kemudian mendapat pekerjaan di One Rochester, sebuah restoran fine dining bergengsi.

Di Rochester namanya mulai dikenal sebagai Chef imut asal Indonesia yang pandai membuat kue. Profilnya pernah ditulis di The Straits Times dan beberapa media di sana.

Di tahun 2009, Karena suatu alasan personal, KC memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Kerabat ayahnya kemudian memperkenalkannya pada seorang Chef muda jebolan French Culinary Institute, New York yang kini menjadi suaminya.

Bersama suaminya, dia mendirikan AMKC pertama kali bukan sebagai restoran, tapi sebagai layanan private dining yang melayani kalangan atas, di antaranya pernah menangani acara fine dining untuk Barrack Obama.

Dari sana, kariernya terus berkembang bersama suami dan UNION. Di tengah pencapaiannya sekarang, KC lebih suka untuk tetap berada di spot kesukaannya: dapur.

Sebagai pemilik bisnis, dia lebih suka memilih dapur sebagai ruang kerja. “Karena dapur adalah dunia saya” imbuhnya. Ketika berada di dapur, saya bisa seperti “hilang”. Mungkin seperti mabuk-mabukan buat orang yang suka pesta, seperti lupa diri, bahkan sampai lupa makan. Seringkali saya merasa terganggu kalau ada orang lain di dapur. Saya lebih suka bekerja sendiri di dalam dapur.

Dulu, saya sering sengaja bekerja tengah malam sampai pagi di dapur supaya tidak ada orang yang lalu lalang mengganggu. Jika ingin membuat saya bisa menciptakan kreasi-kreasi baru, biarkan saya di dapur.

Menurut KC, kue itu magical. Bisa sangat berbeda hasilnya hanya karena suatu perbedaan kecil ketika mengolahnya. Misalnya, suatu resep yang sama akan menghasilan kue yang berbeda hanya karena perbedaan mengocok telur lebih dulu atau mentega lebih dulu. Juga sangat ditentukan oleh waktu pada masing-masing tahap pembuatan, dan sangat ditentukan oleh feeling yang tidak bisa diajarkan. Bikin kue itu seperti science, dan bikin resep itu seperti bikin rumus kimia, lanjutnya.

Proses kreatif menciptakan kreasi-kreasi pastry bermula dari imajinasi. Saya bisa membayangkan rasa sebuah kue sebelum kue itu diciptakan. Dari imajinasi saya itu, saya bisa menentukan bahan-bahan yang akan saya gunakan. Lalu mulailah kue dibuat. Ini seperti pekerjaan kesenian buat saya, kombinasi antara imajinasi dan presisi yang tinggi dalam penggunaan bahan-bahan. Orang melihat kue saya simple, seperti mudah dibuat. Tapi percaya deh, itu semua memerlukan proses yang tidak mudah dan kompleks, tambahnya.

Setelah Red Velvet, Es Teler Cake, dan Martabak Cake, KC terus berkreasi, karena menurutnya tren itu tidak bisa diprediksi, ada banyak faktor yang memengaruhi, dan sangat ditentukan juga oleh market. “Tugas saya adalah terus menerus berkreasi” tutupnya.

Check Also

Kepercayaan Adalah Segalanya

Sebagai sebuah perhiasan, berlian bisa dianggap memiliki kekhasannya. Mewah, mahal dan segmented. Mungkin beberapa kata …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *