Tuesday , September 29 2020
Home / Berita / Saham / Saham BRPT Berpotensi Melejit Ke Level Rp6.000 Per Saham
seorang pelaku pasar sedang melintas di depan papan informasi pergerakan saham di PT Bursa Efek Indonesia

Saham BRPT Berpotensi Melejit Ke Level Rp6.000 Per Saham

Jakarta – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memperkuat fokus bisnisnya dengan berekspansi ke sektor pembangkit listrik geothermal. Hal itu setelah perseroan mengakuisisi mayoritas saham ‎Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHL).‎

Akuisisi Star Energy, perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu‎ itu telah menandatangani supplemental memorandum of understanding (MoU) dengan dua pemegang saham SEGHL, yaitu Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited.

Transaksi tersebut merupakan transaksi afiliasi, sebab Barito Pacific, Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited dipegang olah orang yang sama yaitu Prajogo Pangestu.‎ ‎BRPT sudah membayar uang muka sebesar USD58,60 juta yang diambil dari fasilitas pinjaman Bangkok Bank Public Company Limited senilai USD60 juta pada 21 Desember lalu.

Selain itu, perseroan  juga akan menjaminkan 850 juta saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) untuk mendapatkan pinjaman sekitar USD300 juta dari sindikasi bank.‎

Sebagaimana diketahui, BRPT telah memperoleh fasilitas pinjaman sebesar USD250 juta dari Bangkok Bank Public Company Limited.‎ Perjanjian fasilitas pinjaman tersebut telah ditandatangani kedua pihak pada 24 Maret 2017.‎

Dengan masuknya ‎Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHL) ke Barito Pacific dan melebur jadi satu, menurut Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang, maka menjadikan bisnis BRPT lebih kuat. Dengan begitu sumber pendapatan ke perseroan menjadi lebih beragam, yakni dari sektor pembangkit listrik panas bumi dan petrokimia.

Saat ini, BRPT merupakan pemegang saham pengendali  di TPIA, yang selama ini menjadi penopang utama  kinerja bisnis dan saham perseroan.‎ Sebagaimana diketahui, tiap tahunnya Chandra Asri memperoleh kinerja yang positif. Pada tahun 2016, laba bersih TPIA mencapai USD300 juta, atau naik seribu persen dari posisi laba USD26,33 juta.

Lanjut Edwin, ketika BRPT, Star Energy dan TPIA bergabung menjadi satu untuk fokus dalam mengelola geothermal, maka bisa membangun pembangkit listrik di Indonesia dari sumber alternatif, selain yang sudah ada saat ini. ‎‎

“Secara profit semakin bagus. Karena revenue akan semakin besar, dan net profit akan semakin besar. Karena akan ‎semakin bagus. K‎alau kita lihat semua masuk, ada Chandra Asri, Star Energy, di bulan September atau Oktober, masuk ke BRPT, harusnya harga wajar BRPT di bursa sekitar Rp 6.000 per saham,” ujar Edwin, saat dihubungi, Rabu (26/4).

Sementara itu, Analis Senior dari Binaartha Sekuritas Reza Priyambada berpendapat, jika melihat BRPT mengakuisisi Star Energy, dapat dipastikan transformasi bisnis yang dilakukan Barito akan sukses.

“Dari perkayuan ke sumber daya alam dia ke arah bahan dasar karet sintetis. Dengan masuknya Star Energy akan masuk bisnis energi. Maka menambah added value. Saham Star Energy ke BRPT maka akan lebih solid,” ujar Reza.

Ke depan, Reza menyebutkan, pelaku pasar tetap optimis dengan kinerja saham BRPT. Namun, lebih optimis ketika Star Energy meraih nilai kontrak yang nyata untuk dijalankan pada tahun ini maupun yang akan datang.

“BRPT setelah Star Energy masuk bisa bekerjasama dengan PLN untuk satu tahun depan, paling tidak bisa sudah mengamankan revenue. Star Energy kan cukup besar. Dengan masuknya Star Energy, maka target harga beli untuk pelaku pasar di hari ini sebesar Rp 4.000 per saham. Ini kan pasar diperkirakan akan merespon baik, setelah tuntas akuisisi,” ‎pungkas Reza.‎

Check Also

Bersama Telkomsel, MCAS Luncurkan DigiSaham: Platform Informasi Saham di Indonesia

Jakarta – PT M Cash Integrasi Tbk (IDX: MCAS), perusahaan distribusi digital terdepan di Indonesia, mengumumkan peluncuran …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *