Friday , February 22 2019
Home / Berita / Mengelola Sampah Di Balik Gemerlap Jakarta

Mengelola Sampah Di Balik Gemerlap Jakarta

Hampir semua orang selalu memproduksi sampah tiap harinya. Namun tak semua orang sanggup mengelola sampahnya sendiri. Apalagi sampah lingkungannya.

 

JAKARTA-Matahari belum begitu tinggi. Masih sepenggalah. Namun Herman dan beberapa kawannya sudah punya kesibukannya sendiri. Di ujung gang kecil di balik gemerlap kemewahan Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Herman dan teman-temannya sibuk memilah sampah-sampah rumah tangga. Mereka bukan sekumpulan pemulang. Mereka juga bukan petugas kebersihan Kawasan. Mereka hanya sekumpulan pemuda yang tak mau berpangku tangan melihat sampah-sampah menumpuk dan menjadi masalah di kampungnya.

Usianya masih 35 tahun. Sehari-harinya, Herman bekerja sebagai staf bidang pengadaan dan logistik di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang energi. Tak beda dengan ribuan bahkan jutaan pekerja yang tinggal di Jakarta pada umumnya, sejak pagi hingga sore hari Herman ‘tenggelam’ dalam rutinitas sebagai karyawan. Toh, di malam hari dan saat libur di Sabtu-Minggu pria ini masih sudi berbagi waktunya untuk berkontribusi terhadap lingkungan tempatnya tinggal: RW01 Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan. “Saya alhamdulillah dipercaya sebagai ketua dari kegiatan Karang Taruna di RW01 Kelurahan Pela Mampang ini. Selain itu, di kepengurusan RT, saya juga menjabat sebagai sekretaris RT06,” ujar Herman, membuka perbincangan.

Sejak tahun 2016, RW di mana Herman tinggal sendiri merupakan salah satu kawasan binaan PT Astra International Tbk (ASII) lewat programnya yang disebut .Kampung Berseri Astra (KBA). Melalui program itu, Astra menyalurkan dana bantuan berupa tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) untuk berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penghijauan lingkungan, pendidikan, kerohanian hingga penanganan sampah seperti yang dikerjakan Herman bersama teman-teman Karang Tarunanya. “Satu hal yang Saya suka dari program Astra ini adalah mereka tidak datang membawa program, melainkan mendukung apa pun program yang sudah kami canangkan. Benar-benar bottom up dan jadinya tidak saling tumpang tindih,” ujar Ketua RW01, Sudaryatmo, saat ditemui di kediamannya, Minggu (23/12).

Di setiap akhir tahun, menurut Sudaryatmo, pihaknya selalu mengundang perwakilan Astra untuk turut hadir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat RW yang diselenggarakannya. Tujuannya adalah untuk dapat membangun sinergi terkait program-program RW apa saja yang bisa disupport oleh Astra melalui program KBA. Banyak program yang pada akhirnya bisa dikerjasamakan, seperti misalnya pengadaan bibit tanaman untuk penghijauan wilayah RW01, pendidikan terkait pengelolaan Tanaman Obat Keluarga (Toga) dengan mendatangkan pakar pertanian, penyuluhan tentang kesehatan anak di bawah naunagn Posyandu dan sebagainya. “Termasuk juga program bank sampah yang kami percayakan pengelolaannya ke Karang Taruna di bawah koordinasi Herman ini,” tutur Sudaryatmo.

 

Jadi Duit

Sudaryatmo menjelaskan, persoalan penghijauan dan manajemen sampah sedari dulu memang hampir selalu menjadi masalah tak terpecahkan di daerahnya. Pasalnya dengan kondisi lingkungan berupa gang-gang kecil yang bahkan ketika motor melintas saja harus berganti-gantian, lahan untuk menanam pepohonan dan juga menampung sampah tidak tersedia. Padahal gerobak dan motor pengangkut sampah tidak bisa setiap hari datang karena harus bergantian melayani wilayah RW lainnya. “Akhirnya anak-anak muda ini ada inisiatif untuk bikin bank sampah. Ini sebenarnya juga program turunan dari Pemprov DKI Jakarta, hanya tak semua daerah, tak semua RW programnya jalan. Nah alhamdulillah di wilayah kami justru Karang Tarunanya suka rela menawarkan diri untuk mengelolanya,” ungkap Sudaryatmo.

Secara teknis, kelompok Karang Taruna ini mengedukasi ke rumah-rumah untuk dapat memilah sampahnya sejak dari rumah, mulai dari sampah organik, sampah non organik sampai limbah plastik bekas kemasan. Nantinya sampah-sampah plastik ini ditimbang dan dibeli oleh petugas bank sampah dari kecamatan. Uang dari hasil penjualan tersebut akan dikumpulkan selama sebulan dan baru bisa diambil oleh nasabah laiknya tabungan di bank. “Dulu di awal banyak orang tidak percaya dan malas memilah sampahnya. Tapi pelan-pelan kini warga sudah mulai sadar, ketimbang dibuang cuma-cuma, mending dikumpulkan jadi duit. Sekarang per rumah tiap kali pengumpulan bisa sampai bawa enam kantong besar mulai dari sampah plastik, kertas koran sampai botol-botol kaca bekas minuman kemasan. Bahkan karena program bank sampah ini tak semuanya jalan di masing-masing RW, banyak juga nasabah dari RW-RW lain yang menjual sampahnya ke kami,” ungkap Herman.

 

Baru Plastik

Herman mengakui hingga saat ini tim bank sampah pimpinannya belum mampu mengelola lebih jauh seluruh jenis sampah yang terkumpul. Sejauh ini jenis sampah yang bisa di’uang’kan baru jenis sampah plastik kemasan, aneka kertas yang bisa didaur ulang dan botol-botol plastik dan kaca bekas minuman kemasan. Tak hanya dijual ke Bank Sampah Kecamatan, sebagian dari sampah-sampah itu juga dibeli secara mandiri oleh Karang Taruna untuk didaur ulang menjadi aneka barang pakai seperti tas jinjing, tempat tisu, tadah saji dan lain sebagainya. Hasil dari kreasi ini kemudian oleh Karang Taruna bekerjasama dengan Ibu-Ibu PKK dijual ke toko-toko kerajinan dan juga pusat UKM Pemprov DKI Jakarta. “Minggu ini kami diundang oleh Bank Indonesia (BI) untuk ikut pitching di sana. Kalau oke, kami akan suplai tempat tisu dan tadah saji makanan untuk digunakan sehari-hari di sana. Lumayan, jumlahnya sampai ratusan pcs,” ungkap Herman bangga.

Sedangkan untuk jenis sampah domestik rumah tangga, Herman dan kawan-kawan diakui masih hanya mengandalkan gerobak sampah dari kecamatan untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Karenanya salah satu program yang kini disupport oleh KBA adalah pelatihan pengolahan dan pengelolaan sampah rumah tangga. Herman berharap dengan pelatihan-pelatihan reguler itu kelak Tim Bank Sampah pimpinannya tak lagi hanya bisa menerima sampah plastik namun juga seluruh jenis sampah. “Target itu yang terus kami kejar. Kami yakin suatu saat kami mampu (mengelola sampah domestik/rumah tangga) agar tidak hanya dibuang tapi juga jadi uang. Meski mungkin kendala kami di lahan penampungan sementara,” tukas Herman.

Meski baru sebatas sampah plastik, kemampuan Herman dkk dalam mengelola sampah di lingkungannya patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, data menyebutkan bahwa ‘kemampuan produksi’ sampah warga DKI Jakarta hingga saat ini telah mencapai 7.000 ton per hari. Dari angka tersebut, sekitar 1.900 hingga 2.000 ton diantaranya merupakan sampah plastik. Jika dilihat dari timbunannya di TPA, gunung sampah warga DKI Jakarta setiap dua hari juga bahkan setara dengan luas dan tinggi bangunan Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah. Dibanding data provinsi tersebut, apa yang dilakukan Herman dkk mungkin memang hanya setetes air di tengah padang pasir. Belum akan mampu menyelesaikan masalah. Namun dari setetes air itu secercah harapan tetap terselip, dan Astra sebagai perusahaan besar, rupanya tidak abai dan bahkan masih sangat mendukung gerakan-gerakan kecil pembawa kebaikan itu. “Bisa dibilang semua kita kan nggak pernah bisa untuk nggak nyampah setiap harinya. Kita selalu produksi itu tiap hari. Nah semua orang nggak mau peduli untuk penanggulangannya, pengelolaannya lalu dibuangnya di mana, mau dijadikan apa, mau seperti apa bumi kita ke depan? Cuma ya kapasitas kita masing-masing kan memang terbatas, ya lakukan saja yang bisa dilakukan untuk sesuatu yang lebih baik,” tegas Herman. (JAT)

Check Also

BSDE Incar Marketing Sales Rp6,2 Triliun Tahun Ini, BSD City Masih Jadi Andalan

Tangerang — PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mengincar perolehan penjualan marketing atau marketing sales …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *