Sunday , May 26 2019
Home / Berita / 2019, Pemerintah Targetkan Investasi Rp130 Triliun dari Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil
Aktivitas pekerja di pabrik tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk

2019, Pemerintah Targetkan Investasi Rp130 Triliun dari Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil

Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi nilai investasi yang akan masuk di industri kimia, farmasi dan tekstil (IKFT) sebesar Rp130 triliun pada tahun 2019. Dari penanaman modal tersebut, diyakini dapat memperdalam struktur sektor manufaktur di Indonesia sekaligus mensubstitusi produk impor.

“Di tahun politik ini, sejumlah investor jangka panjang masih tetap jalan. Kami berharap investasi itu turut mendongkrak pertumbuhan industri nasional,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta, Jumat (4/1/2019).

Ia menjelaskan, dari ketiga sektor tersebut, investasi di industri kimia diperkirakan paling besar nilainya karena tergolong padat modal dan membutuhkan teknologi tinggi.

Industri kimia juga dinilai memiliki peran penting di sektor hulu lantaran lantaran produksinya dibutuhkan sebagai bahan baku oleh industri lain.

“Sudah ada beberapa investor yang tertarik untuk ekspansi di industri hulu kimia. Misalnya dari Korea Selatan, yang hingga saat ini masih dalam tahap pembicaraan,” ungkapnya dalam keterangan resmi Kemenperin.

Beberapa waktu lalu, telah terealisasi pembangunan industri petrokimia untuk memproduksi naphtha cracker di Cilegon, Banten.

Investasi tersebut merupakan komitmen PT Lotte Chemical Indonesia yang menggelontorkan dananya sebesar USD3,5 miliar untuk menghasilkan naphtha cracker sebanyak 2 juta ton per tahun.

Selain itu, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk telah menyuntik dana hingga US$5,4 miliar, yang di antaranya guna memproduksi naphtha cracker mencapai 2,5 juta ton per tahun.

Sigit juga mengatakan, pertumbuhan industri farmasi di Indonesia mampu menembus level 7-10 persen pada tahun 2019.

Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Program itu masih menjadi magnet bagi investor untuk menanamkan modalnya, karena meningkatkan demand,” terangnya.

Ia menambahkan, sudah ada investor Korea Selatan yang menyatakan minatnya untuk membangun industri tekstil di Indonesia.

Selain investor dari Negeri Ginseng, investor Tiongkok juga siap menanam modalnya sebesar Rp10 triliun untuk masuk ke industri tekstil yang tergolong sektor padat karya.

Hingga Desember 2018, investasi industri nonmigas diperkirakan mencapai Rp226,18 triliun. Populasi industri besar dan sedang bertambah sebesar 6 ribu unit usaha.

Sedangkan, industri kecil mengalami penambahan jumlah industri yang mendapatkan izin sebanyak 10 ribu unit usaha,” paparnya.

Dari sisi tenaga kerja, total sebanyak 18,25 juta orang telah diserap oleh sektor industri. Jumlah tersebut naik 17,4 persen dibanding tahun 2015 di angka 15,54 juta orang.

 

Check Also

Telkom Tebar Dividen Rp16,23 Triliun

Jakarta – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *