Friday , February 22 2019
Home / Berita / Harga GIAA Melesat 30 Persen Sejak November 2018, Ini Penyebabnya
lantaibursa.id/MS Fahmi Menteri Pariwisata RI Arief Yahya (lima kiri), Direktur Konsumer & Retail BNI Anggoro Eko Cahyo (lima kanan), Direktur Utama Garuda Indonesia, Arief Wibowo (empat kiri), Puteri Indonesia 2016 Kezia Warouw (empat kanan) dan Duta besar UK Moazzam Malik (tiga kanan) berpose saat pembukaan Garuda Travel Fair 2016 (GATF) yang berlangsung pada 7 – 9 Oktober 2016 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat, (7/10). GATF diwarnai berbagai program menarik BNI yang menarik minat masyarakat untuk berkunjung, antara lain Free Entrance dengan menunjukkan Kartu BNI dan juga memberikan Cashback hingga Rp 1 juta bagi pengunjung yang bertransaksi dengan Kartu Kredit BNI Platinum, Signature, dan Infinite serta program ini tersedia bagi 600 tiket per hari GATF.

Harga GIAA Melesat 30 Persen Sejak November 2018, Ini Penyebabnya

Jakarta – Harga saham PT Garuda Indonesia Tbk meningkat lebih dari 30 persen dari harga rata-rata terakhir sebesar Rp312 per saham. Peningkatan harga saham GIAA berlangsung sejak periode 2 bulan terakhir, pasca anjlok signifikan ke Rp200 per saham pada pertengahan November 2018.

Lee Young Jun, Analis Saham PT Mirae Asset Sekuritas menyebutkan, ada tiga hal yang mendorong peningkatan signifikan pada harga saham maskapai penerbangan BUMN tersebut.

Pertama, penguatan harga ditopang kondisi fundamental perusahaan yang tercermin pada peningkatan kinerja operasional. Selanjutnya, penerapan strategi bisnis yang sejalan dengan kinerja operasional.

“Terakhir adalah rencana kerja sama operasi bersama dengan Air Asia Indonesia (CMPP) turut mendukung penguatan harga saham perusahaan,” papar Lee dalam laporan riset saham harian di Jakarta, Senin (7/1/2018).

Menurut Lee, kinerja GIAA telah meningkat sejak November 2018. Seperti yang diprediksi, pasca terjadinya musibah jatuhnya armada Lion Air di perairan Karawang, beberapa pengguna maskapai telah beralih ke Garuda Group seperti halnya juga terjadi pada Sriwijaya Group.

Apalagi, kata Lee, setelah kolaborasi antara GIAA dan Sriwijaya Group, peningkatan harga jual tiket dimungkinkan terjadi pada GIAA, Citilink, Sriwijaya Air, dan NAM Air. Sejalan, pangsa pasarnya pun turut membesar.

Dari sisi strategi bisnis, investor juga diyakini bakal mencermati strategi perusahaan, baik yang tengah berjalan maupun yang masih direncanakan di masa mendatang.

Salah satunya adalah rencana perusahaan untuk masuk ke bisnis kargo dan menjalin potensi kemitraan dengan armada lain dengan tujuan untuk mendorong jumlah penumpang dan tingkat keterisian (load factor).

Strategi lainnya yang bakal diluncurkan pada awal tahun ini, antara lain yaitu wi-fi gratis, pengalaman baru in-flight, dan layanan tambahan bagi pemegang kartu kredit platinum.

Lee menambahkan, isu kerja sama operasi memang terlalu dini untuk dinilai, namun diyakini akan berimbas positif bila terealisasi.

“Kami meyakini kerja sama ini memiliki peluang positif pada pergerakan saham perseroan saat ini meski rencana kerja sama ini baru akan dikaji,” imbuhnya.

Bila dapat terwujud, kerja sama operasi ini akan memberi keuntungan bagi GIAA segi term yield (atau price). Sehingga, hal ini akan memudahkan perseroan dalam menyesuaikan harga jual tiket domestik dan juga internasional. GIAA dan CMPP secara total memiliki pangsa pasar lebih dari 50 persen di pasar perjalanan wisata outbound.

Sejalan dengan Garuda, harga saham Air Asia Indonesia turut meningkat, yaitu mencapai 24,5 persen yang mungkin didorong oleh adanya kabar kerja sama operasi tersebut.

Check Also

BSDE Incar Marketing Sales Rp6,2 Triliun Tahun Ini, BSD City Masih Jadi Andalan

Tangerang — PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mengincar perolehan penjualan marketing atau marketing sales …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *