Sunday , May 26 2019
Home / Berita / Kinerja Sektor Consumer Diprediksi Meningkat Pada Tahun Ini
lantaibursa.id/HO Suasana pengemas udang beku siap ekspor di pabrik penholahan PT Panca Mitra Multi Perdana Situbondo, Jawa Timur, Minggu (18/3/2018).

Kinerja Sektor Consumer Diprediksi Meningkat Pada Tahun Ini

Jakarta – Saham-saham sektor konsumer menampilkan kinerja yang buruk pada sepanjang tahun lalu. Laporan riset Mirae Asset Sekuritas yang dipublikasikan, Kamis (9/1/2018) menyebutkan, Indeks konsumen Jakarta (Jakarta) dibuka di 2.861,5 pada 2 Januari 2018 dan anjlok 10,2% di akhir tahun ke level 2.569,3.

The Jakcons berperforma buruk atas IHSG, yang turun 2,3% selama 2018. Kinerja yang sangat buruk ini cukup mengecewakan, mengingat sektor konsumen biasanya merupakan permainan defensif.

“Kami pikir itu mencerminkan kekecewaan investor terhadap pemulihan yang lebih lambat dari perkiraan dalam niat pembelian konsumen, meskipun inflasi relatif rendah (3,13%). Khususnya, untuk Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Kalbe Farma (KLBF), dan Unilever Indonesia (UNVR), pendapatan gabungan 9M18 menunjukkan pertumbuhan yang lemah,” seperti tertulis di laporan tersebut.

Pada 2 Januari 2019, survei Indeks Pembelian Manajer Manufaktur (PMI) Nikkei Indonesia mengungkapkan bahwa PMI Indonesia naik dari 50,4 pada November menjadi 51,2 pada Desember.

Survei menunjukkan ekspansi yang lebih baik dalam output dan pesanan baru, yang merupakan kabar baik bagi industri manufaktur.

“Sejalan dengan membaiknya kondisi manufaktur, kami percaya permintaan akan naik pada tahun 2019,”.

Sementara itu, menurut laporan berita baru-baru ini, Kementerian Perindustrian Indonesia memproyeksikan subsektor industri makanan dan minuman tumbuh 9,86% pada tahun 2019, lebih tinggi dari industri manufaktur. proyeksi pertumbuhan (+ 5,4%).

Menurut laporan tersebut, berita seperti ini menggembirakan, karena bisa menandakan permintaan yang lebih baik untuk perusahaan konsumen.

Sedangkan, faktor-faktor lain yang berpotensi menopang gerak positif sektor konsumen pada tahun ini, yaitu penurunan harga minyak mentah dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap US$.

Harga minyak yang lebih rendah merupakan kabar positif bagi perusahaan konsumen, yang marginnya harus diuntungkan dari penghematan biaya kemasan.

“Ahli strategi kami memperkirakan rupiah akan menguat pada 2019, karena tingkat kebijakan diperkirakan meningkat menjadi 7,0% (vs 6,0% pada Desember 2018),” imbuhnya.

Pelaku pasar diingatkan pula untuk mewaspadai beberapa risiko yang mungkin berlanjut pada tahun ini. Apalagi, persaingan di antara para pemain Fast Moving Consumer Goods (FMCG) tetap ketat ketika kita memasuki era digitalisasi dan penetrasi online yang masif.

“Selain itu, perang dagang AS-Cina masih harus diselesaikan sepenuhnya dan dapat memicu periode volatilitas lain di pasar global,” demikian akhir dari laporan tersebut.

Sementara itu, hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan eceran November 2018 tumbuh meningkat. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) dari Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia pada November 2018 yang tumbuh 3,4% (yoy), lebih tinggi dari 2,9% (yoy) pada Oktober 2018.

Peningkatan penjualan eceran terutama didorong oleh kinerja penjualan pada subkelompok komoditas sandang. Peningkatan penjualan eceran juga didorong oleh kelompok komoditas bahan bakar kendaraan bermotor serta barang budaya dan rekreasi.

Kenaikan penjualan eceran diprakirakan berlanjut pada Desember 2018 sebagaimana terindikasi dari IPR yang tumbuh 7,7% (yoy). Kinerja penjualan eceran diperkirakan meningkat terutama bersumber dari peningkatan penjualan kelompok komoditas barang lainnya, khususnya subkelompok komoditas sandang dan kelompok komoditas barang budaya dan rekreasi.

Selain itu, pertumbuhan penjualan eceran juga terjadi pada kelompok komoditas makanan, minuman dan tembakau. Peningkatan penjualan eceran pada Desember 2018 tersebut sejalan dengan faktor musiman perayaan Natal dan tahun baru.

Dengan perkembangan tersebut, penjualan eceran pada triwulan IV-2018 dan keseluruhan tahun 2018 diprakirakan membaik. IPR pada triwulan IV 2018 diprakirakan tumbuh 4,7% (yoy), meningkat dibandingkan 4,6% (yoy) pada triwulan III-2018.

Secara keseluruhan tahun 2018, penjualan eceran menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun 2017. Hal ini tercermin dari rerata pertumbuhan IPR sepanjang 2018 sebesar 3,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan rerata pada 2017 sebesar 2,9% (yoy).

Check Also

Telkom Tebar Dividen Rp16,23 Triliun

Jakarta – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *