Sunday , May 26 2019
Home / Berita / WIKA Ingin Usulkan Pembentukan Aturan Produk Perpetual ke OJK
Direktur Keuangan Wijaya Karya Antonius NS Kosasih (WIKA)

WIKA Ingin Usulkan Pembentukan Aturan Produk Perpetual ke OJK

Jakarta – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) tengah menawarkan produk investasi berupa surat berharga perpetual dengan jumlah penawaran sebanyak-banyaknya Rp2 triliun.

Pada tahap pertama penawaran yang digelar tahun lalu, WIKA meraih dana Rp600 miliar dari penawaran sekuritas tanpa tenor dan masa jatuh tempo tersebut.

Antonius N S Kosasih, Direktur Keuangan WIKA kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/1/2019) mengungkapkan, perseroan saat ini tengah menggelar penawaran tahap kedua untuk surat berharga perpetual. Masa penawarannya akan berakhir pada Selasa (29/1/2019) besok.

Sejauh ini, kata Kosasih, produk perpetual perdana yang dilempar perseroan ke pasar disambut sangat baik. Diharapkan, hasil penawaran tahap kedua ini akan lebih baik dari sebelumnya.

Ketika ditanyakan apakah hasil penawaran tahap kedua ini bisa mencapai Rp1 triliun, Kosasih hanya mengatakan bahwa harapan perseroan jumlah tersebut dapat tercapai.

“Harapannya seperti itu, kita masih tunggu sampai berakhir penawarannya besok,” ujarnya.

Kosasih menyatakan pula, banyak pihak yang menyatakan tertarik ingin masuk sebagai investor surat berharga perpetual ini. Sayang, saat ini belum ada ketentuan resmi soal aturan main dari produk perpetual dari regulator, yaitu Otoritas Jasa Keuangan.

Dengan belum adanya peraturan soal produk perpetual, diyakini cukup mengganjal minat calon investor untuk menanamkan modalnya. Kata Kosasih, investor perpetual perseroan saat ini masih dominan berasal dari perusahaan plat merah alias BUMN.

“Perpetual ini masih hybrid jadi belum diatur OJK. Sebenarnya banyak yang ingin masuk tapi aturannya belum ada. Kami nanti akan bicara dengan OJK soal peraturan perpetual ini, bagaimana supaya nanti bisa dibentuk,” imbuhnya.

Direktur Utama WIKA, Tumiyana menyatakan pula, surat berharga perpetual ini diminati karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibanding produk surat utang konvensional.

“WIKA tawarkan turn over yang lebih tinggi, 10,5% per tahun,” katanya.

Ia menambahkan, penerbitan surat berharga perpetual dilakukan sesuai kebutuhan perseroan saat ini, yaitu untuk kebutuhan investasi dan memperkuat modal kerja.

Sebagai informasi, surat berharga perpetual dapat menjadi alternatif sumber pendanaan bagi perusahaan konstruksi dan properti seperti WIKA.

Untuk mengatasi kesenjangan (mismatch) antara kebutuhan pendanaan dengan penghimpunan arus kas yang bersifat jangka panjang, surat berharga perpetual merupakan sebuah solusi.

Surat berharga perpetual ditawarkan tanpa batas waktu dan jatuh tempo. Namun, investor akan memperoleh tambahan imbal hasil bila umur modal yang ditanamkan telah melewati jangka waktu tertentu.

Seperti halnya perpetual yang ditawarkan WIKA, investor dijanjikan memperoleh tambahan hasil sebesar 2% per tahun dari jumlah dana yang pembayarannya ditunda. Ini berlaku untuk periode setelah ulang tahun ke-3 hingga ke-5 dari surat berharga perpetual tersebut.

Bahkan, bila telah melewati periode ulang tahun ke-5, investor dijanjikan memperoleh tambahan imbal hasil sebesar 4,5%

Selain itu, surat berharga perpetual ini dapat digunakan untuk memperkuat posisi permodalan perusahaan. Pasalnya, perpetual dicatatkan sebagai ekuitas, bukan sebagai liabilitas seperti halnya surat utang konvensional. Karena belum diatur OJK, surat berharga ini tidak dicatatkan di bursa.

Untuk diketahui, PT PP (Persero) Tbk merupakan pionir penerbit surat berharga investasi di Indonesia. Pada April tahun lalu, PTPP bekerjasama dengan PT Ciptadana Asset Management menerbitkan produk perpetual melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) sebesar Rp250 Miliar.

Check Also

Telkom Tebar Dividen Rp16,23 Triliun

Jakarta – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *