Friday , February 22 2019
Home / Berita / EBITDA 2018 INCO Melesat Ditopang Kenaikan Harga Nikel dan Efisiensi

EBITDA 2018 INCO Melesat Ditopang Kenaikan Harga Nikel dan Efisiensi

Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$235,7 juta pada 2018, meningkat dibanding US$111,6 juta di tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh kenaikan harga realisasi dan kemampuan untuk menerapkan manajemen biaya yang hati-hati.

Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur INCO mengatakan, harga realisasi rata-rata pada tahun 2018 lebih tinggi 27% dibandingkan harga tahun 2017. “Kenaikan harga tentunya membawa dampak positif terhadap kinerja keuangan kami,” kata Nico dalam keterangannya, Jumat (1/2/2019).

Meski demikian, kata dia, hal yang membedakan adalah kemampuan perseroan untuk mengelola biaya secara hati-hati. Pada awal 2018, INCO meluncurkan tantangan untuk mencapai target pengurangan biaya sebesar US$50 juta dalam tiga tahun.

“Kami telah melakukan serangkaian inisiatif untuk menghilangkan pemborosan operasional dan untuk meningkatkan efisiensi. Upaya itu telah berhasil menyumbang US$10,8 juta dari target US$50 juta pada tahun 2018,” katanya.

Ia mengatakan, perseroan catat penjualan sebesar US$776,9 juta di tahun 2018, naik 23% dibandingkan penjualan di tahun 2017 sebesar US$629,3 juta.

Sedangkan, harga realisasi rata-rata pengiriman nikel dalam matte di tahun 2018 sebesar US$10.272 per ton, naik dari harga tahun 2017 sebesar US$8.106 per ton.

Beban pokok pendapatan perseroan meningkat sebesar 8% dari US$622,8 juta di tahun 2017 menjadi US$672,9 juta di tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar dan batubara.

Menurutnya, konsumsi high sulphur fuel oil (HSFO) pada 2018 per metrik ton nikel dalam matte yang diproduksi menurun, namun konsumsi batubara meningkat bila dibandingkan dengan 2017.

“Hal ini disebabkan oleh inisiatif konversi batubara yang menyumbang total penghematan sebesar US$40,1 juta pada 2018,” kata Nico.

Sementara itu, konsumsi diesel per metrik ton di tahun 2018 meningkat dibandingkan tahun 2017 seiring meningkatnya jam operasi unit alat berat untuk memindahkan lebih banyak volume material.

Kas dan setara kas Perseroan pada 31 Desember 2018 adalah sebesar US$301,1 juta, meningkat sebesar US$79,5 juta dari saldo 31 Desember 2017. Belanja modal pada tahun 2018 adalah sekitar US$99,0 juta, naik dari US$68,5 juta pada tahun 2017.

Vale Indonesia juga memproduksi 74.806 metrik ton nikel dalam matte, turun hampir 3% dari produksi tahun sebelumnya sebesar 76.807 metrik ton. “Penurunan ini terutama didorong oleh kandungan rata-rata nikel yang lebih rendah pada tahun 2018 dan dampak dari kegiatan pemeliharaan yang tidak terencana pada triwulan III 2018,” pungkasnya.

Check Also

BSDE Incar Marketing Sales Rp6,2 Triliun Tahun Ini, BSD City Masih Jadi Andalan

Tangerang — PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mengincar perolehan penjualan marketing atau marketing sales …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *