Sunday , October 20 2019
Home / Berita / Bangun Industri Hilirisasi Batubara, Tiga BUMN dan Perusahaan Kimia Swasta Bersinergi

Bangun Industri Hilirisasi Batubara, Tiga BUMN dan Perusahaan Kimia Swasta Bersinergi

Tanjung Enim – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini M Soemarno mendorong BUMN untuk bersinergi dalam mendukung hilirisasi produk tambang dalam negeri demi meningkatkan nilai tambah, menekan impor dan biaya produksi. Hal ini diungkapkannya saat mengikuti pencanangan industri hilirisasi batubara di Bukit Asam Coal Based Special Economic Zone (BACBSEZ), Tanjung Enim, Sumatera Selatan pada Minggu (3/3/2019).

Pencanangan ini merupakan tindak lanjut dari Head of Agreement Hilirisasi Batubara yang telah ditandatangani oleh 4 perusahaan yaitu PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk/PTBA, PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pertamina (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Melalui teknologi gasifikasi, batubara kalori rendah akan diubah menjadi produk akhir yang bernilai tinggi. Teknologi ini akan mengkonversi batubara muda menjadi syngas untuk kemudian diproses menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG, urea sebagai pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

“Hilirisasi di sektor pertambangan merupakan salah satu upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah produk tambang dalam negeri dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sinergi penting dilakukan untuk menciptakan efisiensi dalam industri batubara, gas, pupuk dan kimia,” kata Rini.

Di kawasan BACBSEZ ini, nantinya akan dibangun 4 kompleks pabrik meliputi pabrik coal to syngas, pabrik syngas to urea, pabrik syngas to dimethyl ether (DME), dan pabrik syngas to polypropylene sebagai langkah besar pengembangan hilirisasi batubara dalam negeri. Pabrik pengolahan gasifikasi batubara ini ditargetkan beroperasipada November 2022.

Arviyan Arifin, Direktur Utama PTBA menambahkan hilirisasi akan memberikan dampak terhadap perekonomian nasional dengan berkurangnya impor terhadap produk yang dihasilkan seperti LPG dan Naphta serta memproduksi pupuk urea dengan ongkos produksi yang diharapkan lebih efisien.

“Kami ingin menciptakan nilai tambah, mentransformasi batubara menjadi ke arah hilir dengan teknologi gasifikasi, dengan menciptakan produk akhir yang memiliki kesempatan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan sekadar produk batubara. Dengan demikian, hal ini diharapkan akan semakin menguntungkan perusahaan,” ungkapnya.

Proyek hilirisasi ini diharapkan akan mampu menghasilkan 500 ribu ton urea per tahun, 400 ribu ton DME per tahun dan 450 ribu ton polypropylene per tahun. Sementara, untuk menghasilkan produk-produk tersebut dibutuhkan batubara sebagai bahan baku utama sebesar 7 juta ton per tahun.

“Dengan jumlah sumber daya batubara yang dimiliki PTBA sebesar 8 miliar ton, proyek ini suatu keharusan dan keniscayaan yang harus dijalankan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi dari cadangan yang ada. Dengan adanya industri ini kita harapkan keberadaan tambang ini akan terus ada 100 tahun kedepan,” imbuhnya.

Check Also

Tingkatkan Elektrifikasi, PLN Luncurkan 1.000 RE for Papua

JAKARTA-Kawasan Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat luas dengan bentang alam yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *