Wednesday , July 17 2019
Home / Berita / Saham / Stock Split, Analis: Saham BRPT Lebih Likuid

Stock Split, Analis: Saham BRPT Lebih Likuid

Jakarta – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berencana melakukan aksi korporasi berupa pemecahan nilai nominal saham (stock split) dalam waktu dekat ini. Rencana stock split akan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang bakal dilakukan perusahaan pada Jumat, 19 Juli 2019.

Kepala Riset Narada Kapital Kiswoyo Adi Joe menyambut baik rencana stock split yang akan dilakukan BRPT. Dia menyarankan, agar saham Barito makin terjangkau investor ritel, maka rasio pemecahan berkisar 1:4 atau 1:5.

“Jadi itu rasionya sudah sangat bagus antara 1:4 atau 1:5. Sehingga, jika tadinya harga BRPT sekitar Rp3.200-3.400 per saham menjadi Rp640- 800 per saham, tergantung rasio yang dipilih. Tentunya saham BRPT akan lebih likuid dan lebih banyak investor ritel yang akan menyerap. Karena harga saham lebih murah,” ungkap Kiswoyo di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Kiswoyo mengatakan, pemecahan nilai nominal saham juga akan membuat jumlah saham beredar perseroan meningkat dari posisi yang ada saat ini.

“Saya melihat strategi pemecahan nilai nominal saham yang dilakukan BRPT cukup bagus. Merujuk pada saat stocksplit 2017, harga saham BRPT saat ini sudah naik sekian persen. Dengan prospek bisnis yang bagus dalam jangka panjang, bukan tak mungkin harga sahamnya akan kembali meningkat,” ucap Kiswoyo.

Apalagi, bilang Kiswoyo, BRPT memiliki anak usaha PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang sangat diuntungkan dengan turunnya harga minyak pada saat ini. Maka, akan menekan biaya bahan baku perseroan ketika melakukan produksi petrokimia.

Sentimen positif lainnnya, sambung dia, TPIA juga akan segera meresmikan operasional pabrik baru Polyethylene (PE) yang akan meningkatkan kapasitasnya menjadi 736KT per tahun, dari posisi saat ini 336 KT per tahun.

“Peningkatan kapasitas produksi tersebut, akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Meski kenyataannya, Indonesia masih ketergantungan dengan impor petrokimia,” terang dia.

Tak hanya itu, dia mengatakan, setelah BRPT mengakuisisi Star Energy (SE), dampaknya sangat besar bagi perusahaan, yakni mencapai sekitar 50% dari EBITDA barito. Akuisisi terhadap sejumlah aset panas bumi Chevron yang dilakukan SE dinilai akan memberikan pendapatan yang stabil terhadap induk usaha.

Meski begitu, Kiswoyo meminta investor untuk memperhatikan berbagai tantangan bisnis yang dihadapi perseroan. Tingginya kebutuhan ekspansi group, peningkatan biaya produksi, dan penurunan margin penjualan, akan menjadi tantangan bagi manajemen BRPT pada tahun ini.

“Memang sangat tepat untuk investor yang ingin menjadikan BRPT sebagai sebagai long term portofolio, bukan untuk trading sesaat. Karena bisnisnya masih cukup bagus untuk jangka panjang. Ketika bisnis masih cukup bagus, maka prospek saham perseroan juga akan mengalami peningkatan ke depannya, setelah melakukan stock split,” tukas dia.

Check Also

Envy Technologies Targetkan Pendapatan Rp 102,76 Miliar

JAKARTA – Perusahaan penyedia jasa teknologi informasi, PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) menargetkan pendapatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *