Saturday , August 24 2019
Home / Berita / Pengamat: Langkah PLN Berikan Kompensasi Sudah Tepat
lantaibursa.id/MS Fahmi Petugas Area Pelaksana Pemeliharaan Cawang PLN Transmisi Jawa Bagian Barat, saat melakukan pemeriksaan rutin pada marseling kios di switch yard gardu induk 150 KV mampang dua Jakarta, Kamis (29/9). Pada 2016 PLN akan menyelesaikan 53 Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 KV serta akan membangun jaringan kabel listrik bawah tanah ( underground cable) sejauh 60km untuk wilayah Jakarta.

Pengamat: Langkah PLN Berikan Kompensasi Sudah Tepat

JAKARTA-Peristiwa pemadaman (blackout) listrik yang terjadi di wilayah Jabodetabek dan sebagian wilayah Jawa Barat dan Banten pada Minggu (4/7) lalu terus ditindaklanjuti oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sejumlah upaya telah dilakukan PLN guna memulihkan kondisi saat blackout terjadi. Hasilnya, blackout yang terjadi mampu dipulihkan dalam waktu relatif singkat. Tercatat, pemadaman pertama kali terjadi pada pukul 11.48 WIB, namun pada sore di hari yang sama, listrik sudah mengalir kembali di sejumlah tempat di Jawa Barat. Selanjutnya pukul 19.00 WIB sebagian wilayah Jakarta juga sudah teraliri listrik, dilanjutkan kemudian wilayah Banten.

Meski demikian, sebagai bentuk tanggung jawab, pihak PLN juga tetap memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak blackout, yaitu berupa pengurangan tagihan listrik yang harus dibayar pada Bulan September 2019 mendatang. Nilai kompensasi yang diberikan mengacu kepada Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017, dan dibayarkan dengan menggunakan no cash-out. Artinya, pihak PLN tidak mengeluarkan uang tunai sama sekali, sehingga dengan demikian tidak diperlukan sumber dana internal maupun eksternal dalam membiayai kompensasi tersebut.

Terkait rencana pemberian kompensasi tersebut, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gajah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyatakan pendapatnya. “Dasar hukum kompensasi yang digunakan PLN dalam pemberian kompensasi sudah tepat, yaitu menggunakan Permen ESDM No. 27 tahun 2017. Metodenya juga tidak mengeluarkan cash melainkan dipotong dari abodemen. Itu strategi yang tepat agar tidak ada cost yang perlu dikeluarkan. Dan terakhir, pemberian (kompensasi) itu kan sebagai bentuk tanggung jawab PLN. Jadi memang (kebijakan pemberian kompensasi) sudah tepat,” ujar Fahmy, saat dihubungi, beberapa waktu lalu.

Terkait metode pemberian kompensasi, nantinya mulai 1 September 2019 akan diberikan pengurangan tagihan listrik kepada dua golongan pelanggan PLN, yakni golongan adjustment dan non adjustment (subsidi). Kepada golongan adjustment diberikan pengurangan tagihan 35 persen dari minimum tagihan pada bulan bersangkutan. Sementara untuk golongan non adjustment atau subdisidi diberikan pengurangan tagihan 20 persen dari total tagihan minimum bulan bersangkutan. Sedangkan kepada pelanggan yang menggunakan listrik prabayar yang menggunakan token untuk pengisian ulang listriknya, maka kompensasi akan diberikan pada saat mereka membeli token. Pada saat pelanggan membeli token, mereka akan mendapatkan 2 nomor token terpisah. Nomor token pertama berisi nilai pengisian pulsa listrik sesuai jumlah yang dibeli. Adapun nomor token kedua berisi jumlah kompensasi yang didapat pelanggan bersangkutan. Kedua token ini selanjutnya di-entry terpisah ke dalam alat meteran pelanggan. Metode dual token ini diterapkan dengan tujuan untuk transparansi, sekaligus kejelasan nilai kompensasi yang diterima pelanggan. Diperkirakan total nilai kompensasi yang bakal diberikan PLN kepada para pelanggan terdampak blackout berdasarkan penghitungan sementara sebesar Rp865 miliar. Jumlah kompensasi itu diperuntukkan kepada 22 juta pelanggan PLN yang tersebar di Jawa Barat, Jakarta dan Banten yang terdampak blackout.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa PLN tidak memerlukan sumber dana internal maupun eksternal untuk membiayai kompensasi yang diberikan kepada pelanggan. Adapun yang akan terjadi pada keuangan PLN adalah, pada bulan September 2019 PLN akan mengalami penurunan pendapatan sebesar Rp 865 miliar karena membayarkan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak blackout.

Fahmy Radhi pun kembali memberi masukan atas rencana PLN tersebut. Menurutnya, PLN perlu melakukan sosialisasi kepada pelanggan yang terdampak blackout mengenai cara pemberian kompensasi dan nilainya. “Karena berdasar perkiraan saya, nilai kompensasi kecil per konsumen itu kecil. Besarannya antara Rp 4000- Rp148 ribu. Tergantung nilai tagihan bulanan umumnya. Namun karena ditotal untuk 22 juta pelanggan jadinya besar, Rp 865 miliar,” ujar Fahmy.

Hal ini perlu disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Agar masyarakat tidak kecewa. Karena pelanggan sudah mengetahui akan ada kompensasi tapi tidak mengetahui nilainya. “Yang dikhawatirkan jika tidak mendapat informasi yang tepat pelanggan akan menjadi high expectation, terhadap jumlah kompensasinya. Jika itu terjadi khawatirnya pelanggan yang sudah terlanjut berharap tinggi ini akan kembali kecewa saat mengetahui bahwa nilai kompensasinya ternyata tidak sebesar yang diharapkan. Jadi saya harap PLN mensosialisasikan perihal kompensasi ini kepada pelanggan dengan tepat agar tidak kecewa dua kali,” demikian Fahmy memberi saran. (JAT)

Check Also

Dua Yayasan Ibu Tien Soeharto Salurkan Bantuan Kemanusian

JAKARTA – Dua yayasan social yang menjadi penanda dan jejak pengabdian Almarhumah Ibu Tien Soeharto …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *