Sunday , October 20 2019
Home / Berita / PLTU PLN Dilengkapi Monitor Emisi

PLTU PLN Dilengkapi Monitor Emisi

JAKARTA-Pembangkit listrik yang ada di Jakarta dan sekitarnya terbukti tidak memberikan kontribusi besar terhadap lingkungan, khususnya kondisi udara di wilayah Jakarta. Hal ini terjadi karena sebagian besar pembangkit listrik yang digunakan merupakan gas alam yang kandungan pencemarnya rendah. Sementara untuk PLTU (berbahan bakar batubara) yang ada telah dilengkapi dengan continuous emission monitoring system (CEMS) yang berfungsi untuk memonitor emisi secara berkesinambungan. Simpulan tersebut didapatkan Pusat Penelitian Pengembangan PLN (PLN Research Institute) berdasarkan simulasi perkiraan sebaran konsentrasi emisi yang terdispersi ke atmosfer. Hasil simulasi itu kemudian dituangkan dalam laporan berjudul Kajian Dampak Emisi Pembangkit yang Berpengaruh terhadap Kondisi Udara Jakarta, yang telah diterbitkan pada 7 Februari 2019 lalu.

Untuk mengestimasi sebaran emisi pembangkit digunakan persamaan model Gaussian, dengan mempertimbangkan kondisi meteorologi dan topografi daerah Jakarta, Bogor, Depok Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Pembangkit listrik eksisting yang menjadi obyek kajian adalah PLTGU Muara Karang  Blok, PLTGU Tanjung Priok, PLTGU Muara Tawar, PLTU Lontar, dan PLTU Suralaya Unit 8 PLN.

Dari hasil perhitungan dan modelling PM 2,5 kemudian didapatkan bahwa jika pencemaran udara didefinisikan sebagai konsentrasi yang tidak melebihi nilai target kualitas udara ambien, maka pada saat ini PLTU Indramayu memiliki jarak aman 3 km, PLTU Suralaya 1- 8 memiliki jarak aman 7 km dan PLTU Lontar memiliki jarak aman 1 kilometer dari Stack.  “Aktivitas pengkajian itu dilakukan sebagai upaya pertama dalam tindakan pencegahan dampak emisi  terhadap lingkungan sekitar dan manusia, serta seberapa  jauh sebaran konsentrasi emisi dari titik penyebab,” ujar Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan PLN, Wanhar, dalam keterangan resminya, Sabtu (3/7).

Parameter gas emisi yang disimulasikan dalam kajian tersebut, menurut Wanhar, adalah parameter yang wajib dipantau sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup no 21 tahun 2008  tentang baku mutu Emisi Sumber tidak bergerak bagi usaha dan/atau kegiatan pembangkit tenaga listrik termal  yaitu SO2, NOx2, total partikulat, dan opasitas. Namun selain itu, dalam kajian tersebut juga dilakukan analisis terhadap konsentrasi  mercuri  (Hg), karena  dalam aturan baru yang sedang dirancang, kandungan itu akan dimasukkan sebagai parameter tambahan. Gas buang atau emisi didefinisikan sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, gas alam dan minyak yang didispersikan ke udara, tergantung pada komposisi bahan bakar serta jenis dan ukuran boiler. “Emisi merupakan salah satu penyumbang pencemaran udara yang dapat berdampak pada kesehatan manusia, dan lingkungan sekitar,” tegas Wanhar. (JAT)

Check Also

Tingkatkan Elektrifikasi, PLN Luncurkan 1.000 RE for Papua

JAKARTA-Kawasan Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat luas dengan bentang alam yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *