Thursday , December 12 2019
Home / Berita / Cempurit Yang Mulai Rapuh di Dukuh Butuh

Cempurit Yang Mulai Rapuh di Dukuh Butuh

Celananya masih basah kuyub. Beberapa tetes keringat berjajar di dahi. Dadanya dibiarkan terbuka tanpa penutup barang kain sehelai. Begitu pun kakinya, dibiarkan saja telanjang menapaki bebatuan di tepian sungai Bengawan Solo, usai merendam selembar kulit kerbau yang dibentangkannya dengan tali pada sebuah bingkai bambu. Hari masih cukup pagi.

Namanya Hadi Kasimo. Tak ada yang tahu pasti berapa usia Kasimo saat ini. Yang pasti, dia adalah salah satu generasi awal yang mempelopori munculnya aktifitas pembuatan wayang kulit di dukuh ini. Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kini, Kasimo tak lagi memproduksi wayang sendiri. Tangan-tangan tuanya sudah terlalu lemah dan buyutan (selalu bergetar) untuk bisa menatah kulit sendiri. Pun, matanya juga tak lagi awas untuk membuat detil ukiran yang selalu ada dalam sebuah wayang. Yang bisa dilakukannya kini hanya merendam dan mengeringkan kulit dan lalu mengerok bulu-bulunya sebelum diproses lebih lanjut menjadi sebuah wayang. “Ingkang pasti sak meniko yuswonipun Mbah Kadimo sampun langkung 80 tahun (yang pasti saat ini usia Mbah Kasimo sudah lebih dari 80 tahun),” ujar Mamik, Ketua Kelompok Usaha Bersama (Kube) Bima, saat ditemui di rumahnya, akhir Oktober 2019 lalu.

Dijelaskan Mamik, Mbah Kasimo merupakan anggota tertua sekaligus menjadi panutan dalam keanggotaan Kube Bima. Kube Bima sendiri menurut Mamik sengaja didirikan sebagai ajang silaturahmi para perajin wayang kulit di Dukuh Butuh sekaligus sarana untuk bekerjasama dalam menggarap pesanan yang datang. Kini sedikitnya 40an perajin wayang telah bergabung dalam keanggotaan Kube Bima, dari total sekitar 100an perajin wayang yang ada di Dukuh Butuh. “Nggih kan masing-masing tiyang benten-benten. Wonten ingkang remen kerjo piyambak, wonten ingkang remen sesarengan. Utaminipun yen pas wonten pesenan kathah, kan mboten saged digarap piyambakan. (Ya kan masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang senang bekerja sendiri, ada yang senang bekerja bersama-sama. Apalagi ketika ada pesanan dalam jumlah banyak, kan tidak bisa dikerjakan sendiri saja),” tutur Mamik.

 

Harapan

Dukuh Butuh sendiri merupakan satu dari 10 dukuh yang ada di Desa Sidowarno. Meski secara administratif berada di wilayah Kabupaten Klaten, posisi Dukuh Butuh sebenarnya justru sangat dekat dengan dua kabupaten tetangga, yaitu Sukoharjo yang hanya berjarak sembilan kilometer dan cuma 10 kilometer dari pusat Kota Solo. Sebagaimana lazimnya kondisi perekonomian di daerah perbatasan, begitu pula yang terjadi di Dukuh Butuh. Sejak dulu, tak banyak pilihan profesi yang bisa dijalani oleh warga Dukuh Butuh selain Bertani. Itu pun dengan hasil yang pas-pasan karena nilai jual hasil tani lebih banyak dinikmati oleh para tengkulak. “Saking kondisi mekaten, Mbah-Mbah riyin mulai miwiti tradisi ndamel wayang meniko. Reginipun luwih sae, supados saged ngangkat panguripanipun kaluargo (Dari kondisi seperti itu, Kakek-Kakek kami dulu mulai mengawali tradisi membuat wayang ini. Harganya lebih bagus, sehingga bisa memperbaiki kehidupan keluarga,” ungkap Mamik.

Pernyataan Mamik tersebut dibenarkan oleh salah satu perajin lainnya, Baron. Nama lengkapnya Sunardi Baron. Dalam kepengurusan Kube Bima Baron dipercaya sebagai sekretaris. Bersama dengan kedua saudaranya, Sukari dan Sunarto, mereka adalah tiga bersaudara yang sejak kecil memang diarahkan oleh Sang Ayah, Sismiyanto Sutar, untuk menekuni keterampilan pembuatan wayang demi meningkatkan taraf hidup keluarga. “Bapak sendiri bukan perajin wayang. Hasilnya pas-pasan. Beliau tidak ingin anak-anaknya ini hidupnya pas-pasan juga seperti dia. Karena melihat hasil dari bisnis wayang ini bagus, Bapak akhirnya mendorong anak-anaknya untuk belajar keahlian ini. Saya disuruh belajar ke orang lain. Ke tetangga, ke saudara. Bahkan Saya pernah merantau ke Jawa Timur untuk belajar membuat wayang,” ujar Baron.

Dan benar saja. Secara umum para perajiin wayang di Dukuh Butuh ini tak ragu menjadikan aktifitas memproduksi wayang kulit ini sebagai sumber penghidupan utamanya. Pasalnya, penghasilan dari menjual wayang rupanya cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, untuk sebuah wayang dengan detil pengerjaan yang relatif mudah saja, bisa laku di pasaran dengan harga rata-rata Rp800 ribu per wayang. Waktu pengerjaannya tak lebih dari seminggu saja. Artinya, seorang perajin minimal bisa mengantongi pemasukan sekitar Rp3,2 juta dalam sebulan. “Biasanya itu untuk karakter putri, atau arjuna gitu. Badannya kan ramping, jadi secara pengerjaan lebih gampang dan simpel. Kalau sudah mahir, ibaratnya digarap santai saja, paling lama seminggu juga sudah jadi,” tutur Baron.

Belum lagi bila yang dikerjakan adalah jenis wayang besar seperti tokoh Kumbokarno atau Gunungan. Menurut Baron, harga jual yang bisa didapat bisa berkali-kali lipat bergantung dengan kualitas dan detil pengerjaan yang diminta oleh pemesan. Misalnya saja untuk jenis wayang paling mahal dengan pewarnaannya menggunakan prada (lapisan emas), bisa dijual dengan harga mencapai Rp15 juta per wayang. Untuk menggarap jenis wayang ‘spesial’ seperti itu, waktu yang diperlukan secara rata-rata bisa mencapai satu bulan. “Makanya dengan waktu penggarapan selama itu, kami ini justru kewalahan melayani pesanan. Sampak nolak-nolak, karena memang jumlah perajin kami saat ini semakin terbatas, terutama dari generasi mudanya,” keluh Baron.

 

Pabrik

Keluhan Baron soal regenerasi itu diamini oleh Mamik. Hingga saat ini mayoritas perajin wayang di Dukuh Butuh berusia 40an tahun ke atas. Di Kube Bima sendiri, anggota termudanya berusia 29 tahun. Namanya Pendi Istakanudian, putra dari Saiman, yang kini menjabat sebagai Bendahara Kube Bima. Baik Saiman maupun Mamik menyatakan bahwa bukan perkara mudah bagi para perajin untuk mengajak anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang perajin wayang kulit. Hal itu tak lepas dari posisi wayang itu sendiri yang merupakan produk hand made, yang mulai dari bahan baku hingga proses pengerjaannya yang cukup rumit, sehingga membutuhkan keahlian khusus dalam mengerjakannya. “Kalau untuk sekadar wayang souvenir atau hiasan, bahan yang dipakai bisa dari kulit sapi atau malah kambing. Tapi kalau untuk wayang yang beneran dipakai dalang pentas, kulitnya pakai kulit kerbau, karena dia tebal. Kalau kulit kambing tidak bisa karena terlalu tipis,” ujar Saiman.

Tak hanya kulit, tongkat pegangan sekaligus pengapit kulit wayang agar bisa berdiri tegak juga diambil dari tulang dan tanduk kerbau. Masyarakat Jawa biasa menyebutnya gapit wayang atau cempurit. Selain cempurit, tanduk kerbau juga digunakan di ujung tangan wayang dan berfungsi semacam kuku jempol tangan si tokoh wayang. Belum lagi keahlian yang dibutuhkan untuk mengukir/menatah wayang dan lalu mewarnainya sesuai pakem pewayangan. Untuk bisa memahami pakem-pakem yang ada dan menguasai berbagai keahlian itu setidaknya dibutuhkan waktu Sekitar dua tahun. “Ini yang biasanya membuat anak-anak muda itu pada malas. Mereka lebih senang kerja di pabrik yang lulus sekolah sudah bisa langsung masuk. Kerjanya seharian cuma pasang kancing atau resleting pakaian. Dan lagi kerja di pabrik dianggap lebih keren karena ikut (bekerja) di perusahaan besar. Padahal kalau mau dibandingkan secara fair, gaji bekerja di pabrik tidak ada apa-apanya dibanding penghasilan seorang perajin wayang,” tukas Saiman.

Benar saja. Jika mengacu pada aturan tahun 2019 ini, Upah Minimum Kabupaten (UMK) Klaten diketahui ‘hanya’ sebesar Rp1.795.061 per bulan. Pada tahun 2020 mendatang, besaran UMK tersebut telah disepakati meningkat sebesar 8,51 persen menjadi Rp1.947.821 per bulan. Jika pembandingnya Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah, nilainya justru lebih kecil lagi. Pada tahun 2019 ini, nilai UMP Jateng ditetapkan sebesar Rp1.605.000 per bulan, sedangkan pada tahun 2020 mendatang meningkat menjadi Rp1.742.000 per bulan. Itu artinya hanya sedikit lebih tinggi dari separuh pendapatan seorang perajin wayang yang diklaim Baron minimal mencapai Rp3,2 juta per bulan. “Itu juga kalau pabriknya tertib membayar sesuai UMK atau UMP. Faktanya kebanyakan pabrik membayar buruhnya masih di bawah UMP dan UMK. Sedangkan perajin (wayang), cukup selesaikan satu gunungan yang kualitas standar saja, harganya sudah Rp5 juta per wayang,” tutur Saiman.

 

Workshop

Karenanya, Saiman mengaku sangat bersyukur mendapati anak bungsunya, Pendi Istakanudin, mau meneruskan jejaknya sebagai perajin wayang. Terlebih, rasa syukur itu kian berlipat saat pertengahan tahun 2018 lalu Dukuh Butuh ditetapkan sebagai salah satu sasaran program Kampung Berseri Astra (KBA) yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk (ASII). Rasa syukur itu lantaran salah satu wujud konkret dari program KBA tersebut adalah pelatihan (workshop) pembuatan wayang kulit di sekolah-sekolah dasar (SD) di sekitar Dukuh Butuh. Saiman berharap program ini dapat terus berjalan lancar, hingga bisa diperluas sampai ke tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga level Sekolah Menengah Atas (SMA). “Kalau kita anak-anak kecil ini secara mandiri di rumah untuk belajar (membuat wayang) biasanya sangat sulit karena lebih suka maen hape dan semacamnya. Dengan diajarkan langsung di sekolah, harapannya bisa lebih terstruktur proses belajarnya,” harap Saiman.

Tak hanya melakukan workshop di sekolah-sekolah, dukungan Astra dalam mengembangkan potensi perajin wayang di Dukuh Butuh juga dilakukan dengan menyediakan alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan wayang, seperti tanah, alat pewarnaan dan lain sebagainya. Selain itu, para perajin juga dikenalkan dengan dasar-dasar administrasi usaha untuk membenahi catatan keuangan usahanya, lalu perluasan jaringan promosi hingga pengembangan inovasi produk-produk yang dihasilkan. Dalam waktu dekat, misalnya, para perajin wayang Dukuh Butuh akan diberangkatkan studi banding dengan para perajin kulit di Kota Gede, Yogyakarta. Di sana, para perajin wayang ini akan diajak belajar lagi tentang opsi produk lain yang bisa dihasilkan dari bahan dasar kulit. “Ya misalkan di Kota Gede sana kan para perajinnya jago bikin jaket kulit. Bisa saja ke depan bikin jaket kulit tapi ada gambar tokoh wayangnya, atau aksen-aksen tertentu di wayang kita terapkan di satu-dua bagian di jaket itu. Bisa saja. Justru nanti jaketnya jadi eksklusif. Nggak pasaran dan bernilai jual tinggi. Misalnya saja seperti itu,” ungkap Baron, yang kebetulan dipercaya sebagai coordinator dalam kunjungan ke Jogja itu.

 

Empat Pilar

Person In Charge (PIC) KBA Dukuh Butuh dari perwakilan Astra Solo, Wahyu Triyono, menyatakan bahwa salah satu alasan Astra Group memilih Dukuh Butuh sebagai sasaran Program KBA adalah terkait kegigihannya dalam mempertahankan salah satu produk budaya Jawa, yaitu wayang kulit, dengan cara tetap melestasikan proses produksinya. Semua pihak tanpa terkecuali harus mendukung setiap upaya pelestarian budaya karena hal tersebut merupakan warisan yang ternilai harganya. “Bahkan UNESCO saja pada tahun 2003 sudah mengakui wayang sebagai produk budaya dunia asli Indonesia. Dan di era moderninsasi seperti saat ini memang sangat challenging  untuk mengajak generasi muda belajar membuat wayang. Karenanya melalui KBA ini kami (Astra Group) ingin turut berkontribusi dan menyemangati para perajin wayang Dukuh Butuh untuk terus berjuang melestarikan dan mengembangkan tradisi bangsa ini,” ujar Wahyu, melalui sambungan telepon.

Wahyu juga menyatakan bahwa program KBA tidak semata-mata berkutat soal ekonomi dan pengembangan usaha semata. Secara keseluruhan program KBA terbagi dalam empat pilar program, yaitu bidang Pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan juga kesehatan. Di bidang Pendidikan, selain menggelar workshop pembuatan wayang kulit di SD-SD, Astra Group juga memberikan beasiswa pada 35 siswa yang merupakan anak-anak dari para perajin Dukuh Butuh. Sedangkan untuk bidang lingkungan, Program KBA mencoba mengenalkan warga Dukuh Butuh terhadap bola pengolahan limbah sampah keluarga secara lebih modern dan tertata. Caranya dengan membentuk pengurus bank sampah dan membangun infrastruktur pendukung, untuk kemudian mulai membiasakan warga untuk memilah sendiri sampahnya sejak dari rumah. “Sementara untuk kesehatan, kami memprioritaskan layanan untuk warga lanjut usia (lansia), seperti penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan rutin secara gratis. Lalu juga pemeriksaan mata bagi para perajin, karena mereka kan juga membutuhkan penglihatan yang tajam. Lalu ada juga bantuan untuk posyandu anak-anak, dan lain-lain,” ungkap Wahyu.

 

Rasa Bangga

Bantuan melalui Program KBA ini oleh Astra Group diberikan selama lima tahun, terhitung sejak awal penunjukan Dukuh Butuh sebagai sasaran pada pertengahan tahun 2018 lalu. Setiap tahun, progress dari keseluruhan program bakal dievaluasi secara rutin guna memetakan tingkat keberhasilan program. Diharapkan dalam dua hingga tahun ke depan Dukuh Butuh bisa kembali dipromosikan dengan label baru, bukan lagi Kampung Berseri, namun menjadi destinasi wisata budaya di Kawasan Jawa Tengah. Melihat dukungan yang dilakukan Astra Group pada para perajin Dukuh Butuh, sejumlah apresiasi pun dilayangkan. Tak terkecuali dari kalangan pegiat perencana keuangan. “Bagus sih. Kemauan Astra sampai masuk ke desa-desa semacam ini jelas perlu diapresiasi. Apalagi ini untuk segmen budaya seperti ini. Kita bisa lihat, budaya wayang semacam ini perlahan kian terbatas pasarnya. Perlu ada upaya yang cukup inovatif untuk melawan tren itu. Dan dorongan Astra untuk masuk ke sekolah-sekolah itu cukup solutif,” ujar Financial Advisor MoneySmart Indonesia, Ayyi Achmad Hidayah, saat dihubungi terpisah.

Namun demikian, terkait minimnya minat generasi muda untuk ikut melanjutkan tradisi membuat wayang kulit ini, Ayyi menilai perlu adanya terobosan-terobosan baru dalam hal cara pandang masyarakat terhadap produk wayang itu sendiri. Harus diakui, masyarakat modern saat ini telah terlanjur menstigma wayang sebagai produk yang jadul dan tidak memiliki prestise yang tinggi. Pandangan ini lah menurut Ayyi yang perlu dipatahkan oleh para perajin wayang Dukuh Butuh, tentunya dengan bantuan dari Astra Group. “Yang dikejar anak-anak muda ini untuk kerja di pabrik apa sih? Sedangkan sudah disebutkan bahwa secara penghasilan justru produksi wayang ini yang lebih menjanjikan. Jadi apa yang mereka cari? Prestise bahwa mereka bekerja di perusahaan besar. Itu kuncinya,” tutur Ayyi.

Pandangan semacam itu, menurut Ayyi, tidak hanya menjangkiti masyarakat desa yang notabene secara umum tingkat pendidikannya terbatas. Bahkan, Ayyi menjelaskan, di kota-kota besar di mana masyarakatnya berpendidikan tinggi pun hingga saat ini masih ada sebagian yang berpandangan demikian. Namun, pandangan tentang ‘kebanggan bekerja di perusahaan besar’ itu perlahan kini mulai terpatahkan dengan hadirnya konsep entrepreneurship. Alhasil, mulai banyak kini anak-anak muda yang ketika lulus dari bangku kuliah, tidak lagi tertarik untuk berebut menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan swasta besar atau perusahaan multinasional. “Secara bertahap anak-anak muda ini kita kenalkan dengan konsep entrepreneurship, konsep kewirausahaan, konsep kemandirian finansial tanpa harus bekerja ikut orang lain, perusahaan lain. Dan akhirnya mereka lebih bangga bikin usaha sendiri. Bikin warung kopi sendiri, bisnis clothing sendiri. Ini mungkin perlu ditularkan juga ke generasi muda di Dukuh Butuh,” tukas Ayyi.

Dengan pendekatan yang berbeda ini, Ayyi berharap generasi muda Dukuh Butuh ke depan tidak lagi silau dengan nama besar perusahaan atau pabrik tempat dia bekerja, melainkan mulai bangga dengan berwirausaha menjadi seorang perajin wayang kulit. Seperti halnya cempurit yang berdiri tegak menyangga wayang agar bisa tetap tegak berdiri, sudah saatnya generasi muda Dukuh Butuh, juga berdiri bangga sebagai penerus warisan budaya pembuatan wayang kulit dari Desa Sidowarno. Sudah saatnya generasi muda Indonesia bisa berdiri tegak dengan kebanggaan atas warisan kebudayaannya dari beragam suku bangsa. “Jika produk dari pabrik itu, misalnya, bisa sampai diekspor ke luar negeri, wayang-wayang ini juga kok. Bahkan orang luar negeri sangat senang dengan benda-benda budaya seperti wayang ini. Mereka (generasi muda Dukuh Butuh) harus mulai didorong untuk merasa bahwa jadi perajin wayang itu keren kok. Penghasilannya juga jauh lebih oke. Dan satu hal, bahwa rejeki kita tidak bergantung pada (perusahaan) orang lain. Itu jauh lebih membanggakan ketimbang seumur hidup jadi karyawan,” tegas Ayyi. (Taufan Sukma)

Check Also

Bukan Ekonomi, Faktor Ini Justru Yang Jadi Ancaman Indonesia Saat Ini

JAKARTA-Para pakar dan praktisi pendidikan nasional mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *