Monday , August 10 2020
Home / Berita / Indonesia Perlu Belajar Dari Runtuhnya Uni Soviet

Indonesia Perlu Belajar Dari Runtuhnya Uni Soviet

JAKARTA-Ditunjuknya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) terus memantik respon di kalangan masyarakat. Pola pikirnya sebagai generasi muda yang kerap out of the box seringkali menjadi sorotan, baik bagi masyarakat yang sepakat maupun juga yang tak setuju dengan berbagai gagasan yang dilontarkan mantan bos Go-Jek tersebut. Kali ini respon juga datang dari kalangan lembaga masyarakat dan praktisi pendidikan yang mengingatkan agar Nadiem tidak terjebak untuk hanya mengejar kompetensi Pendidikan namun tercerabut dari semangat kebangsaan. “(Pesan) Ini sangat penting. Bahwa negara-negara yang hancur itu benar-benar ada. Tercatat dalam sejarah. Coba misalnya kita melihat Uni Soviet. Mereka perekonomiannya kuat, militernya kuat, tingkat Pendidikan tinggi, kekayaannya juga cukup besar. Tapi toh hancur juga. Lalu apa yang salah? Kesalahan mereka adalah tidak adanya semangat kebangsaan di masyarakatnya,” ujar Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, dalam sebuah diskusi yang digelar di Jakarta, Rabu (11/12). DIskusi tersebut diselenggarakan atas kerjasama Aliansi Kebangsaan, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri (FKPPI).

Secara lebih mendalam, Pontjo menyebut bahwa semangat kebangsaan dapat diartikan sebagai sebuah semangat warga negara untuk hidup bersama dalam lingkup sebuah bangsa dan negara. Semangat inilah yang bila berkaca pada realitas di masyarakat yang terjadi saat ini dalam pandangan Pontjo sudah sangat memprihatinkan. “Dalam kehidupan politik dewasa ini kita sudah bisa melihat sinyal-sinyal bahwa semangat hidup bersama itu sudah sangat tergerus. Masing-masing kelompok merasa dirinya paling benar, paling penting. Lalu kelompok lain dianggap nggak penting. Kalau sinyal-sinyal seperti ini dibiarkan, maka negara dianggap tidak perlu lagi ada. Perekat kebangsaannya sudah hilang, sepeti yang terjadi di (Uni) Soviet,” tutur Pontjo.

Tak hanya semangat kebangsaan, tugas pendidikan juga adalah membentuk warga-warga negara yang unggul dan siap setiap saat membela bangsanya di tengah ekosistem dunia. Pontjo mengibaratkan dalam sebuah pasukan militer, di mana kuat atau lemahnya pasukan tersebut akan sangat ditentukan oleh kualitas para prajurit yang tergabung di dalamnya. “Jangan hanya memposisikan individu-individu dalam negara itu semata-mata sebagai penduduk, tapi lebih pada seorang warga negara. Seperti arti katanya sendiri, seorang penduduk semata-mata hanya orang yang menduduki atau menempati wilayah sebuah teritori kenegaraan. Dia sifatnya pasif. Tapi kalau warga negara lebih menekankan bahwa masing-masing individu yang berkumpul dalam satu negara itu punya kewajiban untuk membela negaranya setiap saat ketika dibutuhkan,” sahut Juru Bicara YSNB, Bambang Pharma, dalam kesempatan yang sama. (JAT)

Check Also

Gelombang IV Kartu Prakerja Dibuka, Kuota Meningkat Jadi 800.000 Orang

JAKARTA – Pemerintah segera membuka pendaftaran gelombang IV Program Kartu Prakerja mulai Sabtu, 08 Agustus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *