Friday , January 24 2020
Home / Berita / Seiris Hela Dan Putik Hijau di Selipan Jakarta

Seiris Hela Dan Putik Hijau di Selipan Jakarta

Di era serba modern, kehidupan seolah tersaji dengan semakin mahal. Dulu Setiap orang tak perlu merogoh kantong untuk mendapatkan air bersih. Pasokannya berlimpah dan ada di mana-mana. Tapi kini, semua seolah mafhum ketika sebotol air bersih siap minum harus dibeli dengan beberapa lembar uang ribuan. Maka, siapa yang bisa menjamin bahwa udara bersih dan segar yang kita hirup saat ini akan selamanya tersedia gratis tanpa bayaran?

***

 

JAKARTA-Lelaki tua itu duduk sendiri di seberang depan rumahnya. Tepat di pinggir jalan kecil di balik tembok sebuah perkantoran di Bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Beberapa hela nafas panjang dilepaskan. Selepas itu, beberapa tiupan dilepaskan pada kopi di cangkir yang dia pegang. Sekali seruputan sebelum membuka perbincangan kami sore itu. “Yah begini lah kebiasaan Saya sepulang kerja. Istirahat sejenak menunggu Maghrib sambil menghirup nafas segar sekaligus refreshing mata dengan melihat yang hijau-hijau begini. Ditemani secangkir kopi pahit. Wahh… Nikmat sekali,” ujarnya sembari tersenyum lebar.

Lelaki ini adalah Sudaryatmo. Sejak tahun 2009 lalu, dia telah dipercaya oleh para tetangganya untuk menjabat sebagai Kepala RW01 di Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Cakupan wilayah yang dipimpinnya, seperti yang juga nampak di sekitaran rumahnya, sebagian besar adalah gang-gang kecil di balik gemerlap aktifitas bisnis dan hiburan di Kawasan Kemang. Seperti sebuah baliho besar atau gaun cantik yang dipakai seorang artis dalam sebuah pertunjukan, Jakarta sepintas lalu memang selalu terlihat indah, megah, glamour dan mempesona jika dipandang dari kejauhan. Namun di balik baliho atau gaun cantik itu, selalu ada selipan kain yang menyembunyikan ketidaksempurnaan agar tak terlihat oleh publik. Gang-gang sempit tempat Sudaryatmo tinggal ini lah ‘selipan’ dari kemeriahan Jakarta.

Menurut Sudaryatmo, bukan hal mudah baginya sebagai Kepala RW01 untuk mulai menginisiasi perubahan di tengah kehidupan kaum urban yang terkenal cuek, keras dan hampir selalu berorientasi pada keuntungan semata. Termasuk juga soal perbaikan lingkungan yang notabene untuk kebaikan bersama. “Pertama kali dipilih, Saya langsung berpikir perbaikan apa yang bisa saya kerjakan sebagai Kepala RW, karena bagi Saya kalau tidak bisa memberikan perubahan apa-apa, ya gunanya Saya apa? Mending tidak usah (jadi kepala RW),” ujar Sudaryatmo. Dan dari pemikiran tersebut, pria berkumis ini pun melihat perubahan krusial yang paling dibutuhkan warga adalah terkait penghijauan.

 

Lahan

Dalam pandangan Sudaryatmo, di tengah kehidupan di gang-gang sempit perkotaan, masyarakat jadi kesulitan untuk mendapati pepohonan atau setidaknya tanaman hijau di sekitarnya lantaran terbentur oleh keterbatasan lahan. Padahal fungsi pepohonan itu sangat penting untuk memperbaiki sirkulasi udara, meningkatkan kualitas udara dan juga sebagai ajang rekreasi visual dengan melihat penghijauan. “Dulu mana ada pohon atau tanaman-tanaman kecil gitu di wilayah kami. Tidak ada sama sekali, karena memang mau ditanam di mana? Tidak ada lahan. Sehingga sejauh mata memandang yang ada ya Cuma tembok atau got-got saluran air yang airnya keruh terkena limbah rumah tangga,” tutur pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini.

Karenanya, begitu resmi menjabat sebagai Kepala RW, hal pertama yang dilakukan Sudaryatmo adalah berkoordinasi dengan pengurus kelurahan untuk diijinkan memanfaatkan lahan di atas got-got yang sudah tidak berfungsi untuk dijadikan sarana sebagai lahan penghijauan. Gayung bersambut. Pihak kelurahan pun memberikan ijin, sembari ikut penasaran ingin tahu sekiranya bentuk penghijauan seperti apa yang bisa dilakukan di kampung sempit padat penduduk seperti di wilayah Pela Mampang. “Saya jelaskan pada Pak Lurah bahwa bagaimana pun anak-anak kita juga perlu sirkulasi udara yang layak. kesegaran pandangan yang juga layak. Bukan hanya melihat tembok-tembok dan bangunan beton saja. Mereka juga butuh melihat yang ‘hijau-hijau’ agar teduh, secara pandangan jadi lebih sehat dan secara pernafasan juga lebih segar,” papar Sudaryatmo.

Seiring berjalannya waktu, apa yang digagas oleh Sudaryatmo dan para pengurus RW01 pun mulai mendapat atensi dari warga yang mulai merasakan sendiri manfaat dan sisi positif dari gencarnya program penghijauan yang dilakukan. Masyarakat yang semula tak acuh dengan program Sudaryatmo secara perlahan mulai membuka diri dan tergerak untuk berpartisipasi. Bahkan tak sedikit warga yang rela atau justru meminta agar secuil areal di depan rumahnya dapat turut dijadikan lahan penghijauan kampung. “Makin ke sini justru mereka yang antusias. Malah ada yang sampai berinisiatif memasang besi di bagian atas depan rumahnya seperti gapura gitu untuk ditanami tanaman jalar. Mereka senang karena sekitar rumahnya jadi semakin teduh, asri, dan untuk bernafas kini juga bisa semakin lega,” ungkap Sudaryatmo sembari kembali menghela nafas seraya bangga.

 

Bank Sampah

Dengan kegigihannya, Sudaryatmo dan para pengurus RW pimpinannya akhirnya berhasil menyulap pemandangan got-got dan tembok kumuh di sepanjang gang menjadi ‘hutan kecil’ yang selain memanjakan mata dengan pesona hijaunya, namun juga menyegarkan pernafasan karena pasokan oksigen yang berlebih dari tanaman-tanaman tersebut. Selain menggalakkan penghijauan, Sudaryatmo dan tim juga mulai menekankan pentingnya memelihara kebersihan di kawasannya. “Karena kalau banyak tanaman tapi nggak ditata dengan baik, kotor, sampah di mana-mana, maka justru akan terlihat kumuh. Selain nggak enak dilihat, juga berpotensi jadi penyakit untuk warga,” papar Sudaryatmo.

Untuk mengatasi masalah kebersihan, Sudaryatmo rupanya punya cara unik. Tak hanya mengandalkan imbauan yang sifatnya normatif, Sudaryatmo pun menggerakkan para pemuda di kawasannya lewat Karang Taruna yang salah satu tugasnya adalah mengelola Bank Sampah. Diakuinya bahwa Bank Sampah merupakan program dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dapat menanggulangi masalah sampah di Ibu Kota. “Tapi meski program Pemprov, nggak semua Kelurahan, nggak semua RW bisa jalankan karena tidak ada orang untuk mengurusnya. Di kami, tugas itu saya berikan ke Karang Taruna, ke anak-anak muda agar mereka punya kegiatan positif, nggak hanya nongkrong nggak jelas apa yang mau dikerjakan,” tandas Sudaryatmo.

Dan benar saja, Bank Sampah RW01 secara perlahan menjadi salah satu bank sampah yang cukup aktif dan terkelola dengan baik diantara bank-bank sampah lain di lingkung Kelurahan Pela Mampang. Herman, sang Kepala Karang Taruna bahkan berani mengklaim bahwa nasabah bank sampahnya kini tidak hanya datang dari RW01 saja, melainkan juga dari RW-RW lain di sekitarnya. Hal itu terjadi karena si nasabah tertarik dengan program bank sampah yang ada di RW01, sedangkan di RWnya sendiri program bank sampah tidak berjalan. “Dulu agak susah juga mengajak warga untuk mau memilah sampahnya sejak dari rumah. Tapi karena terbukti bisa jadi duit, lama-lama tertarik juga. Banyak yang dulu antipati justru sekarang semangat karena sampah plastik yang dulu dibuang kini bisa dijual dan menghasilkan uang,” ujar Herman.

Jika para pemuda diberdayakan lewat wadah Karang Taruna, para ibu rumah tangga dan pemuda putri ‘disentuh’ Sudaryatmo dengan program Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) yang membuka bisnis catering dengan bahan baku sebagian dihasilkan dari beragam tanaman yang ditanam bersama di secuil lahan yang diwaqafkan dari salah seorang warga. “Ada sekitar 200an meter lahan tidur, belum terpakai oleh yang punya lahan. Saya ijin saja untuk dipakai penghijauan. Dan alhamdulillah hasilnya seperti ubi, singkong, ketela, bisa kita pakai untuk bahan baku catering. Memang belum semuanya. Sebagian besar kami masih beli di pasar karena memang terhambat ketersediaan lahan,” keluh pria yang tak tergantikan dalam lima kali pemilihan Kepala RW berturut-turut ini.

 

KBA

Namun dari seluruh upayanya tersebut, satu hal yang paling disyukuri Sudaryatmo adalah bahwa kini para warganya sudah tak lagi saling cuek dan antipati terhadap program-program RW karena sudah secara langsung dapat merasakan sendiri hasil dari program-program tersebut. Terlebih ketika wilayah Sudaryatmo ini ditetapkan sebagai salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) yang dalam setiap kegiatannya mendapat dukungan penuh dari PT Astra International Tbk lewat program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). Sejak saat itu, program-program kerja Sudaryatmo mulai dari penghijauan, penanganan kebersihan hingga pemberdayaan warga lewat usaha catering kecil-kecilan kian berkembang lebih maksimal. “Alhamdulillah banyak sekali bentuk dukungan dari pihak Astra. Dengan bantuan permodalan dan pelatihan memasak sekarang catering Ibu-Ibu di sini sudah mulai rutin mendapat pesanan dari Pemprov DKI setiap kali ada acara di sana. Warga juga tak perlu repot ketika mau hajatan, tinggal saling bantu lewat catering ini,” ungkap Sudaryatmo.

Bila kegiatan catering mendapatkan ‘jatah’ permodalan dan pelatihan, program penghijauan disupport Astra dalam bentuk penyediaan berbagai jenis benih tanaman, pelatihan pengolahan Tanaman Obat Keluarga (Toga) hingga dikaitkan dengan pelatihan pengolahan sampah organik dan non organik melalui bank sampah. Sudaryatmo juga mengaku senang lantaran pelaksanaan program KBA sifatnya tidak membawa satu program yang sudah fix, melainkan mensupport seluruh program yang sudah ada dan telah digagas sebelumnya oleh warga. Setiap akhir tahun, dijelaskan Sudaryatmo, pihaknya selalu mengundang pihak Astra untuk ikut hadir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat RW. Gunanya untuk dapat membangun sinergi terkait program-program RW apa saja yang bisa didukung oleh pihak Astra melalui program KBA. “Dengan sistem yang seperti itu, kami lebih senang karena sistemnya lebih bottom up sehingga lebih tepat guna. Lebih mendengar usulan dari warga. Bukan kita tiba-tiba disuruh program apa gitu, yang belum tentu cocok dengan kondisi warga di sini,” tandas Sudaryatmo.

 

Solutif

Apa telah dilakukan Sudaryatmo di wilayahnya dengan dukungan penuh program KBA dari PT Astra International Tbk pun dinilai banyak pihak sangat tepat dalam memecahkan permasalahan khas daerah perkotaan seperti minimnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan juga pengelolaan sampah yang kurang memadai. Pendekatan yang dilakukan Sudaryatmo dengan menggalakkan program bank sampah dinilai jauh lebih solutif ketimbang imbauan pemerintah terkait pelarangan pemakaian produk plastik yang notabene memang menjadi masalah utama pengelolaan sampah karena sifatnya yang tidak bisa terurai. “Memang solusi penanganan sampah yang benar itu bukan melarang pemakaian produk plastik seperti sampak plastik dan semacamnya karena faktanya barang-barang itu masih kita butuhkan dan kita perlu pakai dalam kehidupan sehari-hari. Jadi nggak mungkin dilarang. Yang lebih mungkin adalah membenahi sistem pengelolaannya melalui daur ulang,” ujar Pengamat dan Pemerhati Regulasi Persampahan, H Asrul Hoesein, dalam kesempatan terpisah.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation ini, pemerintah sebenarnya telah memiliki Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah atau lebih kerap disebut sebagai Undang-Undang Pengelolaan Sampah (UUPS). Dalam UU tersebut, telah diatur bahwa pengelolaan sampah yang benar tidak hanya dimulai sejak sampah telah sampai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan sudah mengelolanya secara terstruktur dan sistematis sejak di Kawasan timbulannya, alias sejak sampah baru dihasilkan di wilayah asalnya. “Maka solusi paling tepat memang adalah menginisiasi sebanyak mungkin bank-bank sampah di masyarakat. Ini sudah sesuai dengan UU, karena dengan adanya penguatan bank sampah, maka edukasi di masyarakat soal daur ulang juga bisa lebih fokus dan massif dilakukan. Sudah bukan saatnya lagi pemerintah dengan pendekatan one man show bikin kampanye ini-itu, karena percuma juga kalau tidak ada tindakan nyatanya di level paling bawah. Jadi (inisiatif menggalakkan) bank sampah ini sudah yang paling dan solutif, terlebih di Kawasan urban perkotaan seperti Jakarta,” tegas Asrul.

(TAUFAN SUKMA)

Check Also

Kemenkeu Berikan Tax Holiday ke Chandra Asri

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyetujui PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) mendapatkan perolehan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *