Friday , January 24 2020
Home / Berita / Soal Pailit Bangun Cipta Kontraktor, IIF Bakal Pilih Debitur Potensial

Soal Pailit Bangun Cipta Kontraktor, IIF Bakal Pilih Debitur Potensial

JAKARTA-PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) mengaku telah mengetahui proses hukum yang kini tengah membelit PT Bangun Cipta Kontraktor (BCK) yang merupakan salah satu debiturnya. Proses hukum tersebut terkait dengan persidangan kasus pailit yang tengah dihadapi oleh BCK di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. “Kami sudah mengetahui (informasi) itu. Sudah banyak informasi terkait hal (Proses pailit BCK) itu diberitakan di media,” ujar Direktur Utama IIF, Reynaldi Hermansjah, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (19/12).

Sebagaimana diketahui, BCK dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebelumnya telah mendirikan perusahaan patungan bernama PT Meta Adhya Tirta Umbulan untuk menggarap proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan. Pada Desember 2016, IIF dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) telah menandatangani perjanjian pembiayaan sindikasi untuk proyek SPAM Umbulan. Terkait kasus kepailitan BCK yang dimohonkan oleh perusahaan asal Selandia Baru, H Infrastructure Limited (HIL), agenda persidangan di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sudah memasuki tahap pengambilan kesimpulan. Rencananya, majelis hakim akan memutuskan perkara ini pada 30 Desember 2019.

Di lain pihak, Reynaldi menyatakan bahwa saat ini IIF memiliki tiga besar fokus sektor infrastruktur, yakni sektor jalan tol, renewable energy dan sektor air. “Untuk sektor air, atau kalau untuk ketiga sektor itu sebesar 55 persen dari total (penyaluran pembiayaan),” ujarnya. Ke depan, penyaluran pembiayaan IIF disebut Reynaldi akan menyasar perusahaan yang berkompetensi baik. Intinya, penyaluran pembiayaan hanya akan dilakukan kepada industri-industri yang memang memiliki potensi yang baik. Terkait potensi bagi BCK untuk kembali menerima pembiayaan, Reynaldi enggan untuk memastikan perusahaan yang akan menerima pembiayaan di 2020. “Soal (BCK) itu hal yang berbeda. Sesuatu yang berbeda,” imbuhnya.

Lebih lanjut Reynaldi mengungkapkan, pada tahun depan IIF menargetkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp14,5 triliun atau lebih besar dari proyeksi pembiayaan di 2019 yang sekitar Rp10 triliun-Rp11 triliun. “Siapa saja yang memiliki opportunity dan memiliki potensi yang baik, maka kami akan partisipasi,” ujarnya.

Pada hari ini, IIF resmi mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I-2019 dengan nilai emisi sebesar Rp1,5 triliun di BEI. Penerbitan obligasi tahap pertama senilai Rp1,5 triliun ini merupakan bagian dari rencana Obligasi Berkelanjutan I yang mengincar total dana mencapai Rp3 triliun. IIF menunjuk lima sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi, yakni PT Indo Premier Sekuritas, PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia. (JAT)

Check Also

Kemenkeu Berikan Tax Holiday ke Chandra Asri

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyetujui PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) mendapatkan perolehan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *