Sunday , June 28 2020
Home / Berita / Perbankan dan Pelaku Usaha Berbagi Optimisme dalam Pandemi COVID-19

Perbankan dan Pelaku Usaha Berbagi Optimisme dalam Pandemi COVID-19

JAKARTA – Merebaknya wabah COVID-19 di seluruh dunia membawa dampak besar terhadap dunia usaha yang akhirnya berimbas negatif ke sektor perbankan, selaku pemberi kucuran kredit kepada para pengusaha.

Banyak pengusaha dari berbagai sektor industri kesulitan memenuhi kewajiban cicilan kredit lantaran bisnisnya sedang sepi. Demi mengurangi beban keuangan yang harus dipenuhi, bahkan mereka terpaksa harus memangkas jumlah karyawannya.

Sehubungan dengan itu, kredit bermasalah atau NPL perbankan diakui mulai menunjukkan tanda-tanda meningkat, seperti disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana.

“Dalam pantauan kami, memang secara NPL sudah mulai ada sedikit kenaikan, yaitu dari 2,77 persen pada bulan sebelumnya menjadi 2,89 persen pada posisi saat ini. Namun, dari segi recovery rate masih sangat aman, yaitu mencapai 212,05 persen,” ujarnya dalam seminar virtual dengan tema ‘Strategi Perbankan Bangkitkan Dunia Usaha di Tengah Pandemi COVID-19’ yang diselenggarakan oleh Warta Ekonomi, Kamis (18/6/2020).

Heru juga mengajak semua pihak untuk tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19 ke depan, namun kewaspadaan tetap harus dijaga.

“OJK telah menyiapkan berbagai langkah yang bisa ditempuh sesuai dengan perkembangan yang nantinya terjadi di pasar. Paket relaksasi tahap pertama telah dijalankan lewat POK Nomor 11. Bila memang diperlukan, paket-paket (relaksasi) lanjutan juga sudah siap (dijalankan),” lanjutnya.

Menurut Heru, pihaknya telah menyediakan berbagai opsi restrukturisasi kredit yang bisa dijalankan oleh perbankan terhadap nasabah kreditnya yang sedang bermasalah.

Beberapa opsi tersebut diantaranya pengembalian posisi bunga ke pokok, penyesuaian jangka waktu kredit, penambahan fasilitas hingga konversi nilai kredit ke penyertaan modal sementara.

“Semua opsi itu kami serahkan sepenuhnya ke masing-masing banknya. Ke masing-masing lembaga pembiayaannya, agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik nasabah kreditnya masing-masing,” papar Heru.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menyatakan bahwa persoalan likuiditas menjadi hal krusial yang harus benar-benar dijaga guna menyelamatkan industri perbankan dan bahkan perekonomian nasional.

Sebagai sesama pelaku usaha, ia juga mengajak seluruh bank yang ada di Indonesia untuk lebih mengutamakan likuiditas dibanding profitabilitas perusahaan untuk kondisi saat ini.

“Kita bisa banyak belajar dari krisis yang terjadi saat 1998 dulu, di mana perekonomian babak-belur gara-gara likuiditas yang tidak tersedia di pasar. Saya ingat betul, sekitar setahun sebelumnya, hampir kita semua sangat yakin bahwa gelombang krisis tidak akan sampai ke Indonesia karena nilai tukar kita saat itu sangat kuat. Dollar di kisaran Rp2.000an. Tapi ketika melonjak drastis hingga Rp15.000-an per dollar, otomatis likuiditas kita terkuras,” ujar Jahja.

Diperiode awal krisis masuk Indonesia diawali dengan ditutupnya 16 bank-bank kecil. Karena saat itu belum ada sistem penjaminan yang saat ini diperankan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), maka sontak penutupan bank sebanyak itu membuat masyarakat panik.

Penarikan uang secara besar-besaran terjadi, sehingga makin membuat likuiditas yang tersedia menjadi sangat terbatas.

“Karena itu, dengan pengalaman yang ada, kita harus satukan semangat untuk menjaga likuiditas. Soal profitabilitas nanti dulu saja. Kita selamatkan dulu angsanya, untuk nantinya ketika sudah aman, telurnya bisa kita bagi dan nikmati bersama-sama,” papar Jahja.

Imbauan Jahja itu disambut baik oleh kalangan pengusaha. Dengan adanya komitmen dari perbankan tersebut, para pengusaha berharap memiliki ruang lebih untuk berimprovisasi dan berinovasi untuk dapat bertahan di tengah tekanan pandemi COVID-19.

“Terima kasih Pak Jahja. Mendengar komitmen Bapak bahwa yang utama saat ini adalah saling bahu-membahu menjaga likuiditas, kami dari dunia sangat senang dan sumringah. Artinya kita sudah sepaham bahwa jangan dulu mengedepankan profitabilitas masing-masing.

Mari kita saling berkolaborasi agar bisa menghadapi (kondisi pandemi) ini bersama-sama,” ujar Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaya Kamdani, berbicara pada kesempatan yang sama.

Menurutnya, komitmen untuk saling membantu tersebut  juga dipegang teguh oleh APINDO, terutama untuk mendorong kalangan pengusaha kecil dan menengah untuk dapat bertahan di tengah keterbatasan modal dan kekuatan yang dimilikinya.

Misalnya, dalam hal ketersediaan pasokan bahan baku, kondisi pasar yang sedang lesu, hingga penguasaan teknologi yang masih sangat terbatas di kalangan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Mungkin ajakan untuk going digital itu mudah bagi para pengusaha besar, tapi bagi mereka yang (usahanya) kecil-kecil ini, jangan dianggap itu hal yang mudah. Jadi jangan juga asal memberi tips atau seruan tanpa melihat siapa yang sedang kita hadapi,” lanjutnya.

Selain stimulus yang sudah disediakan, kata Sinta, untuk UMKM kita juga harus lihat lebih banyak hal lagi dari model bisnisnya, apakah masih valid atau sudah harus ditinggalkan.

“Soal digitalisasi mereka bagaimana, soal aset yang mereka punya dan ready to use apa saja. Itu semua harus dicek, dan kami (APINDO) sangat concern tentang hal ini.

Kami tegas berkomitmen membantu mereka (UMKM) ini, karena kalua mereka bisa survive maka pasar juga akan kembali bagus dan kita semua bisa terselamatkan dari sana,” ujar Shinta.(*)

Check Also

Ekspansi Mitra10 di Lombok

Lombok – PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) melanjutkan rencana ekspansi Mitra10  dengan melakukan Grand …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *