Tuesday , March 2 2021
Home / Berita / PEFINDO Revisi Peringkat KIK EBA Mandiri GIAA01
Ilustrasi armada Garuda Indonesia

PEFINDO Revisi Peringkat KIK EBA Mandiri GIAA01

JAKARTA – PEFINDO merevisi peringkat KIK EBA Mandiri GIAA01 Kelas A di “idBB(sf)(cg)” dari “idCCC(sf)(cg)”. Peringkat tersebut didasarkan atas penilaian ulang atas pembayaran porsi amortisasi pokok senilai Rp360 miliar di tanggal 2 September 2020, dari jadwal awal di tanggal 27 Juli 2020.

Analysts PEFINDO Danan Dito dan Yogie Surya Perdana menjelaskan bahhwa proses klaim oleh PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) selaku pengelola investasi kepada PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) sebagai penjamin pokok transaksi ini, telah dihentikan dengan telah tersedianya dana oleh GIAA untuk membayar kewajiban tersebut.

“Karena adanya klausul force majeur/risiko politik di dalam penjaminan tersebut yang menyebutkan perhentian penerbangan dari Jeddah dan Madinah ke Indonesia dan sebaliknya, selama penghentian tersebut masih berlaku, kami berpandangan bahwa penjaminan Askrindo memiliki dampak yang jauh lebih kecil terhadap peringkat KIK EBA, dibandingkan dengan pada saat pengkajian peringkat awal penerbitan KIK EBA, yang tidak memperkirakan dampak pandemi global COVID-19 yang tidak terduga dan tidak pernah terjadi sebelumnya ini.”ujarnya.

“Kami juga merevisi prospek peringkat Perusahaan menjadi “negatif” dari “Creditwatch dengan implikasi negatif” setelah realisasi pembayaran amortisasi pokok tersebut. Prospek negatif mencerminkan profil kredit GIAA yang dalam pandangan kami masih lemah dan rentan terhadap pemburukan di tengah kenaikan kasus infeksi di Indonesia dan implementasi kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar / PSBB di Jakarta, yang dapat membalikkan tren kenaikan permintaan penerbangan domestik, dan memberikan tekanan tambahan bagi arus kas dan posisi likuiditas GIAA dan KIK EBA.”imbuhnya.

Dalam pandangan PEFINDO, hal ini lebih dominan daripada pengumuman pembukaan penerbangan internasional sebagian oleh pemerintah Arab Saudi, di mana masih ada ketidakjelasan dalam waktu dekat bahwa pengumuman ini berarti berlanjutnya kembali penerbangan dari Jedah dan Madinah ke Indonesia dan sebaliknya, untuk mendukung arus kas KIK EBA. Dan juga, terdapat kemungkinan penundaan realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai Rp8,5 triliun, yang dalam estimasi kami, dapat mendukung operasi GIAA lebih lanjut untuk 3-6 bulan ke depan.

Peringkat untuk KIK-EBA dapat diturunkan jika pendapatan dan arus kas GIAA menurun lebih jauh, di mana menurut pandangan kami, meningkatkan risiko tidak terbayarnya kupon dan pokok amortisasi KIK EBA ke depannya. Namun, prospek dapat direvisi kembali menjadi “Stabil”, jika profil kredit GIAA mengalami perbaikan dan stabil karena peningkatan kegiatan penerbangan yang berkelanjutan, dan/atau redanya tekanan pada beban finansial GIAA, yang dapat berasal dari realisasi dukungan pemerintah.

Efek utang dengan peringkat idBB mengindikasikan parameter proteksi yang sedikit lemah dibandingkan efek utang Indonesia lainnya. Kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut mudah terpengaruh oleh memburuknya perkembangan perekonomian, bisnis, dan keuangan, yang akan dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk memenuhi komitmen keuangannya atas efek utang. Suffix (sf) menunjukkan peringkat atas transaksi keuangan terstruktur, sedangkan suffix (cg) menunjukkan bahwa peringkat mempertimbangkan keamanan dalam bentuk garansi perusahaan.

Peringkat mencerminkan penghentian rute Timur Tengah (Middle Eastern atau MEA) GIAA, perlindungan arus kas yang sangat lemah, profil kredit dan likuiditas yang sangat lemah karena dampak COVID-19, dan karakteristik industri penerbangan yang tergantung pada musim. Namun, peringkat didukung oleh penjaminan Askrindo atas porsi pokok dari KIK EBA Mandiri GIAA01.

Originator, GIAA, telah menjual hak atas pendapatan masa depan senilai Rp2,615 triliun dari rute MEA kepada kontrak investasi kolektif (KIK) yang dibentuk oleh MMI yang berperan sebagai manajer investasi dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII, idAAA/Stabil) sebagai bank kustodian. Aset yang mendasari transaksi KIK EBA ini adalah arus kas 5 tahun ke depan dari rute Timur Tengah (Middle Eastern atau MEA) yang menghubungkan beberapa kota di Indonesia ke Jeddah dan Madinah, yang mayoritas adalah untuk tujuan umroh. (AHM)

Check Also

Fasilitas Kesehatan Lengkapi Fasilitas Jakarta Garden City

Jakarta – PT Mitra Sindo Sukses selaku pengembang Jakarta Garden City dan PT Siloam Medika …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *