Saturday , January 23 2021
Home / Berita / Rugi BUMI di Picu Melemahnya Harga Batu Bara

Rugi BUMI di Picu Melemahnya Harga Batu Bara

JAKARTA  – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan Rugi bersih (yang diatribusikan kepada BUMI) sebesar US$137,3 juta pada YTD Sept’2020 dibandingkan Laba Bersih US$76,1 Juta pada YTD Sept’2019.

Dalam keterangan tertulisnya, Dileep Srivastava Director & Corporate Secretary BUMI, mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantarantanya realisasi harga batubara pada YTD Sept’2020 mengalami penurunan sebesar 14%, yang dipicu oleh kondisi ekonomi global dan pasar yang negatif, sehingga berimbas pada permintaan batu bara pada pasar utama Perseroan.

“Juga Pandemi Covid-19 yang berdampak pada negara-negara pengimpor batu bara,”kata Dileep.

Selain itu, kerugian BUMI juga dipicu oleh penurunan pada volume penjualan di YTD Sept’2020 sebesar 5% dibandingkan YTD Sept’2019 karena terkoreksinya permintaan batu bara China dan India serta pembayaran pinjaman yang dilakukan Perseroan – Sebesar US $ 331,6 juta secara tunai yang terdiri atas pokok Tranche A sebesar US$195,8 juta dan bunga sebesar US$135,8 juta (termasuk bunga akrual dan bunga yang belum dibayar) telah dibayarkan secara tunai sejak April 2018.

Pendapatan YTD Sept’2020 turun sebesar 19% menjadi US$2.773,9 juta dari US$3.413,6 juta YOY – terutama disebabkan oleh penurunan realisasi harga penjualan batu bara sebesar 14% dan penurunan volume penjualan sebesar 5% b) Volume penjualan gabungan mengalami penurunan sebesar 3,1MT, terutama di Arutmin.

“Meskipun sektor ekonomi saat ini masih dalam kondisi merugikan dan dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis Perseroan, pendapatan operasional Perseroan tercatat sebesar US$156,9 juta – meskipun lebih rendah dari tahun lalu.”ucap Dileep.

Dileep menambahkan, penekanan maksimal telah dilakukan pada cost management – Harga Pokok Penjualan turun sebesar 12% menjadi US$2.468,0 juta di YTD Sept’2020 dibandingkan dengan US$2.816,7 juta di YTD Sept’2019. Beban Usaha mengalami penurunan sebesar 12% menjadi hanya sebesar US$149 juta vs US$169,3 juta tahun lalu.

Closing Inventory tercatat sebesar 3,3 MT pada akhir September 2020 vs 5,2 MT di akhir September 2019. Hal ini mencerminkan efisiensi modal kerja. Meski kondisi pasar masih belum menentu, Perseroan tetap optimis dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerja operasionalnya dalam jangka menengah.

“Dengan adanya peraturan Pemerintah yang baru saat ini, melalui Omnibus Law baru memungkinkan pemberian insentif pada proyek hilirisasi seperti gasifikasi batu bara – BUMI sudah menjadi pemasok batu bara yang ditunjuk untuk proyek metanol terdekat mulai tahun 2023,”pungkasnya. (AHM)

Check Also

Askrindo Gandeng BAZNAS dalam Penyaluran Donasi Program Pendidikan dan Kesehatan

JAKARTA – PT Asuransi Kredit Indonesia yang merupakan anggota Holding Perasuransian dan Penjaminan Indonesia Financial …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *